Studi Pendahuluan Inventarisasi

Wednesday, 19 January 2011 14:37 Admin TNUK
Print

STUDI PENDAHULUAN INVENTARISASI BADAK JAWA

DENGAN METODE KONSENTRASI PADA KUBANGAN DI TN. UJUNG KULON

Balai Taman Nasional Ujung Kulon


Inventarisasi Badak Jawa merupakan salah satu kegiatan utama Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Kegiatan ini dilakukan secara teratur dalam selang waktu tertentu untuk mengetahui perkembangan populasi badak jawa di TN. Ujung Kulon. Dalam 10 tahun terakhir ini, TN. Ujung Kulon telah mengadakan inventarisasi badak jawa dengan menggunakan metode penghitungan jejak di dalam jalur/transek yang telah tercatat dengan baik titik koordinatnya. Metode ini digunakan karena badak jawa sulit ditemui secara langsung. Oleh karena itu sampai saat ini belum bisa dipastikan jumlah populasi badak jawa sesungguhnya di TN. Ujung Kulon.

Dimana hasil yang diperoleh selama ini hanya taksiran jumlah individu yang relative stagnant yaitu antara 50-60 ekor. Terjadinya stagnasi dari jumlah populasi badak jawa dapat mengundang pertanyaan penting yaitu 1) apakah kondisi badak jawa di TN. Ujung Kulon sudah mencapai daya dukung lingkungannya? 2) apakah metode inventarisasi yang dilakukan selama ini tidak akurat? Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut maka TN. Ujung Kulon mencoba  inventarisasi badak jawa dengan metode lain yaitu metode konsentrasi di kubangan badak agar peluang bertemu dengan badak mendekati satu. Salah satu alasan metode ini dilakukan di kubangan karena salah satu bukti adanya badak jawa yang masih dapat dilihat adalah keberadaan tempat kubangannya.

Pada tanggal 16 s.d 20 Agustus 2009, Balai TN. Ujung Kulon bekerjasama dengan Laboratorium Ekologi Satwa Liar Fakultas Kehutanan IPB dan didukung oleh WWF dan YABI melakukan kegiatan “Studi Pendahuluan Inventarisasi Badak Jawa dengan Metode Konsentrasi pada Kubangan di TN. Ujung Kulon” yang bertujuan untuk membuktikan apakah badak jawa benar-benar berkubang dan mengetahui karakteristik atau tipologi kubangan yang digunakan serta kapan dan berapa lama badak jawa berkubang. Selain itu diharapkan dapat diperoleh data dasar yang lebih sempurna guna meningkatkan upaya konservasi satwa badak jawa.

Kegiatan ini terkonsentrasi pada 15 kubangan badak yaitu blok Citerjun, Gardu buruk, Cigenter, Cibandawoh, Cikeusik, Citadahan dan Cibunar. Pelaksana kegiatan sebanyak 30 orang pengamat yang terdiri dari 8 orang mahasiswa, 15 orang staf TN. Ujung Kulon, dan 6 orang anggota RMPU. Selain itu juga ditunjang oleh 15 orang masyarakat sebagai porter. Pengamatan dilakukan di atas ranggon dengan tinggi antara 4-5 meter pada tempat yang memungkinkan badak terlihat jelas di kubangan. Setiap tim pengamat secara bergantian melakukan pengamatan terhadap kubangan dan areal sekitarnya selama periode waktu  3x24 jam. Pengamatan di seluruh kubangan dilakukan secara bersamaan/paralel untuk setiap 10 menit ulangan. Apabila dijumpai badak secara langsung, maka dilakukan pencatatan waktu, jumlah individu, jenis kelamin, kelas umur dan tipe aktivitasnya. Begitu pula apabila hanya ditemukan suara, jejak atau tanda-tanda lainnya.

Dari hasil pengamatan di 15 kubangan, terdapat 6 kubangan yang tidak berair/berlumpur dan hanya 9 kubangan saja yang memenuhi kriteria untuk diamati. Berdasarkan pada tabel rekapitulasi perjumpaan badak jawa diketahui bahwa dari 9 kubangan yang diamati ternyata 7 kubangan berpotensi didatangi oleh badak yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa badak benar-benar perlu berkubang dan bukan sebuah mitos. Perjumpaan langsung badak berkubang terjadi pada pukul 01.50 dan 03.40 dini hari. Sementara bunyi patahan dari badak yang mendekati kubangan bahkan tercium bau badak terjadi mulai pukul 17.00-22.10 malam hari. Sementara itu, suara badak mendekati kubangan mulai terdengar sejak pukul 19.50-05.10 pagi hari. Berdasarkan temuan tersebut diketahui bahwa badak jawa cenderung mendekati kubangan dan berkubang pada malam hari. Hal ini sesuai dengan Schenkel (1969) yang menyatakan bahwa badak jawa berkubang hanya pada waktu malam hari. Akan tetapi Hoogerwerf (1970) menemukan bahwa badak jawa tidak hanya berkubang pada waktu malam hari tetapi juga pagi dan sore hari.

Dari hasil pengamatan ini, lamanya aktivitas berkubang sulit diprediksi karena badak jawa segera pergi dari berkubang setelah pengamat mengarahkan lampu senter ke kubangan. Namun menurut Hoorgerwerf (1970), lama berkubang badak jawa berkisar antara 1-6 jam setiap kali berkubang. Aktivitas berkubang ini umumnya dilakukan 1-2 kali dalam sehari. Terjadinya fenomena bahwa tidak semua badak yang mendekati kubangan ujicoba melakukan aktivitas berkubang, diduga badak telah mencium kehadiran pengamat yang berada di atas ranggon karena hal-hal sebagai berikut :

  1. Pembuatan ranggon terlalu mendadak sehingga badak terganggu;
  2. Adanya aktivitas masak yang dilakukan tim pengamat sehingga asapnya tercium oleh badak;
  3. Adanya aktivitas merokok yang dilakukan pengamat sehingga mengganggu badak;
  4. Adanya aktivitas turun naik ranggon yang dilakukan pengamat ketika ada hajat;
  5. Adanya aktivitas bunyi-bunyian yang dilakukan porter ketika mencari kayu bakar untuk keperluan masak.

Metode konsentrasi sebenarnya punya peluang untuk dapat diiplementasikan, tetapi ada beberapa hal perlu yang diperbaiki saat pelaksaaannya, misalnya untuk pembuatan ranggon atau pemasangan kamera pada kubangan-kubangan terpilih perlu dilakukan secara dini dan tidak mendadak saat pelaksanaan pengamatan. Selain itu juga dibutuhkan pengamat yang memiliki motivasi dan keseriusan untuk mengamati badak dan dukungan peralatan binokuler infra merah yang dapat menunjang saat pengamatan malam tanpa mengakibatkan badak jawa terganggu dan pergi. Dengan perbaikan sarana prasarana pengamatan dan peningkatan kapasitas pengamat, diharapkan metode konsentrasi dapat menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperoleh hasil populasi badak jawa yang optimal.