Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita PRESS RELEASE PELEPASLIARAN SATWA LIAR DILINDUNGI JENIS BURUNG MERAK HIJAU (Pavo muticus) DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

PRESS RELEASE PELEPASLIARAN SATWA LIAR DILINDUNGI JENIS BURUNG MERAK HIJAU (Pavo muticus) DI KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Tuesday, 17 December 2019 10:36 @NSA
Print PDF

Pulau Handeleum, Selasa, 10 Desember 2019 dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) tahun 2019, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta bersama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) melaksanakan pelepasliaran satwa liar dilindungi berupa burung merak hijau (Pavo muticus) yang berjumlah 6 (Enam) ekor dengan perbandingan sex rasio 2 (dua) ekor jantan dan 4 (empat) ekor betina. Pelepasliaran dilaksanakan di Pulau Handeleum yang merupakan bagian dari kawasan konservasi kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem memiliki program prioritas pelestarian tumbuhan dan satwa

liar dilindungi di habitat alaminya (In-Situ), salah satu bentuk programmnya adalah menggalakkan upaya-upaya penambahan populasi satwa liar dilindungi, langkah dan endemik melalui kegiatan pelepasliaran (release satwa liar) di alam. Masih dalam suasana peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 2019, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati mensupport Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jakarta, Balai Taman Nasioal Ujung Kulon dan Lembaga Konservasi Taman Mini Indonesia untuk melaksanakan pelepasliaran satwa liar 6 ekor burung merak hijau (Pavo muticus) di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon.

Upaya pelestarian satwa liar dilindungi di habitatnya menjadi tanggung jawab utama BKSDA Jakarta dan karena itu senantiasa mengajak semua pihak untuk terlibat dalam upaya-upaya pelestarian tersebut. Taman Mini Indonesia sebagai salah satu pemilik ijin Lembaga Konserasi Umum yang berada dalam wilayah binaan BKSDA Jakarta juga kami ajak untuk hal tersebut, hal ini mengingat bahwa TMII selain juga memiliki peran dan tanggung jawab dalam pelestarian satwa liar juga terbukti telah berhasil mengembangkan beberapa satwa liar dilindungi termasuk salah satunya jenis burung merak hijau. Dukungan dan kerjasama semua pihak khususnya Balai TN Ujung Kulon dan Direktur KKH menjadi sangat penting sehingga acara pelepasliaran ini dapat berjalan dengan baik, dan karena itu kami sampaikan apresiasi dan terimakasih,.ucap Ahmad Munawir selaku Kepala Balai KSDA Jakarta.

Anggodo selaku kepala Balai TN Ujung Kulon dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Kami sangat senang dan mendukung atas terpilihnya kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai tempat pelepasliaran burung merak hijau. Di dalam kawasan TN Ujung Kulon memang dikenal sebagai habitat alami jenis burung merak hijau, dan saat ini populasi di alam perlu terus ditingkatkan sesuai dengan daya dukung habitatnya”.
Sekitar bulan November tahun 2018, kami mendapat tantangan sekaligus kepercayaan oleh pihak Balai KSDA Jakarta untuk ikut berpartisipasi dan berkontribusi langsung didalam upaya peningkatan populasi satwa liar dilindungi di habitatnya, pada saat itu kami langsung setuju dan menawarkan jenis burung merak hijau untuk yang menjadi prioritas

pertama. Alhamdulilah setelah satu tahun lamanya kami persiapkan, mulai dari penetasan, pembesaran dan pemeliharaan dengan standar mendekati alami mulai dari interaksi yang minim, pakan alami, pemeriksaan genetik, pemeriksaan kesehatan akhirnya pada hari ini kegiatan pelepasliaran burung merak hijau dapat dilaksanakan. Karena itu kami sangat berterimakasih kepada semua pihak khususnya BKSDA Jakarta atas pembinaannya dan kepercayaannya kepada TMII. pungkas drh. Kombo selaku Manager Taman Burung dan Taman Reptile serta Museum Komodo TMII MII.

“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi upaya pelestarian burung merak hijau di kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon, upaya-upaya seperti akan terus saya galakkan dan lanjutkan di kawasan-kawasan konservasi lainnya di Indonesia. Saya juga akan mendorong para pemilik pemilik ijin lembaga konservasi umum agar mulai melakukan program pelepasliaran khususnya satwa satwa liar dilindungi yang telah berhasil mereka kembangkan di LK nya,” kepada pihak Balai TN Ujung Kulon saya titip agar satwa yang telah dilepasliarkan ini terus dimonitor perkembangannya sehingga nantinya dapat berkembang biak dan menambah populasi burung merak hijau di TN Ujung Kulon, ucap Indra Exploitasia selaku Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian LHK.

Penanggung jawab berita :
1. Ahmad Munawir, S.Hut, M,Si (Kepala Balai KSDA Jakarta) : 081288891392
2. Ir. Anggodo, M.M (Kelapa Balai TN ujung Kulon) : 081247349017
3. Drh. Pieter Kombo (Manager Taman Burung dan Taman Reptile serta Museum Komodo TMII : 081310333952

#KSDAE
#KKH
#TamanNasionalUjungKulon
#BKSDAJakarta
#TMII

Last Updated on Thursday, 19 December 2019 14:58
the world heritage

 

 

contact tnuk



Kategori

We have 15 guests online

Pengunjung

130937
Hari IniHari Ini207
KemarinKemarin571
Minggu IniMinggu Ini207
Bulan IniBulan Ini2899
SemuaSemua1309372