Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita HUT Kabupaten Pandeglang ke 141 tanggal 1 April 2015

HUT Kabupaten Pandeglang ke 141 tanggal 1 April 2015

Wednesday, 01 April 2015 09:52 Admin TNUK
Print PDF

Hari Jadi Kabupaten Pandeglang ke 141

Kabupaten Pandeglang adalah sebuah kabupaten di Provinsi BantenIndonesia. Ibukotanya adalah Pandeglang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang di utara, Kabupaten Lebak di Timur, serta Samudra Indonesia di barat dan selatan. Wilayahnya juga mencakup Pulau Panaitan (di sebelah barat, dipisahkan dengan Selat Panaitan), serta sejumlah pulau-pulau kecil di Samudra Hindia, termasuk Pulau Deli dan Pulau TinjilSemenanjung Ujung Kulon merupakan ujung paling barat Pulau Jawa, dimana terdapat suaka margasatwa tempat perlindungan hewan badak bercula satu yang kini hampir punah.

Pusat perekonomian Kabupaten Pandeglang terletak di dua kota yakni Kota Pandeglang dan Labuan. Sebagian besar wilayah Kabupaten Pandeglang merupakan dataran rendah dan dataran bergelombang. Kawasan selatan terdapat rangkaian pegunungan. Sungai yang mengalir diantaranya Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat, dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke arah selatan.

Dahulu kala Pandeglang berasal dari kata “Pandai Gelang” yang artinya orang tukang atau tempat menempa gelang. Pendapat ini terutama dikaitkan dengan legenda "Si Amuk" yang konon kabarnya pada Zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada seorang tukang Pandai (tukang besi) yang termasyur pandai konon cerita Sultan Banten yang memerintah pada waktu itu menyuruh tukang pandai besi di desa tersebut untuk membuat gelang meriam yang bernama si AMUK, karena di daerah lain tukang pandai besi tidak ada yang sanggup untuk membuatnya. Oleh karena pandai besi tersebut berhasil membuatnya maka daerah Kadupandak dan sekitarnya disebut orang Pandeglang yang selanjutnya berkembang menjadi salah satu distrik di Kabupaten Serang. Selain itu ada dua pendapat yang mengemukakan bahwa Pandeglang juga berasal dari kata “Paneglaan” yang artinya tempat melihat ke daerah lain dengan jelas. Hal ini seperti dikemukakan dalam salah satu Buku “Pandeglang itu asal dari kata Paneglaan, tempat melihat ke mana-mana”. Sedikit kita nanjak ke pasir, maka terdapat sebuah kampung namanya “Sanghiyang Herang” patilasan orang dahulu, awas (negla) melihat kemana-mana yaitu “Pandeglang sekarang”. Pandeglang berasal dari kata “Pani-Gelang” yang artinya “tepung gelang”. Pada Tahun 1527 Banten jatuh seluruhnya ke tangan Syarif Hidayatullah yang kemudian diperkuat untuk kepentingan perdagangan.

Sekitar tahun 1680  muncul perselisihan dalam kesultanan Banten akibat perebutan kekuasaan dan pertentangan antara Sultan Ageng dengan puteranya Sultan Haji. perpecahan ini dimanfaatkan oleh VOC (Vereenigde oostindische Compagnie) yang memberikan dukungan kepada Sultan Haji (Sultan Abu Nashar Abdul Qohar), sehingga terjadi perang saudara di Banten. untuk memperkuat posisinya, pada tahun 1682 Sultan Haji mengirimkan 2 orang utusannya untuk menemui Raja Inggris di London agar mendapat dukungan serta bantuan persenjataan. Dalam perang ini Sultan Ageng terpaksa mundur dari istananya dan pindah ke kawasan Tirtayasa, namun pada 28 Desember 1682 kawasan ini juga dikuasai oleh Sultan Haji bersama VOC. Sultan Ageng bersama puteranya yang lain, yakni Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf mundur kearah pedalaman Sunda. Pada 14 Maret 1683 Sultan Ageng tertangkap dan ditahan di Batavia.

VOC terus mengejar dan mematahkan perlawanan dari pengikut Sultan Ageng yang masih berada dalam pimpinan Pangeran Purbaya dan Syekh Yusuf. Pada 5 Mei 1683, VOC mengirim Untung Surapati yang berpangkat Letnan beserta pasukan Balinya bergabung dengan pasukan pimpinan Letnan Johannes Maurits van Happel menundukkan kawasan Pamotan dan Dayeuh Luhur, dimana pada 14 Desember mereka berhasil menawan Syekh Yusuf. Sementara setelah terdesak akhirnya Pangeran Purbaya menyatakan menyerahkan diri. Kemudian Untung Surapati diperintahkan oleh Letnan Ruisj untuk menjemput Pangeran Purbaya, dan dalam perjalanan membawa Pangeran Purbaya ke Batavia, mereka berjumpa dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Willem Kuffeler. Namun terjadi pertikaian diantara meraka, puncaknya pada 28 Januari 1684 pos pasukan Willem Kuffeler dihancurkan dan Untung Surapati dan pengikutnya menjadi buronan VOC. Sedangkan Pangeran Purbaya sendiri baru pada tanggal 7 Februari 1684 sampai di Batavia.

Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji mesti dibayar dengan memberikan kompensasi kepada VOC diantaranya:

  • Pada 12 Maret 1682 wilayah lampung yang menjadi kekuasaan Banten diserahklan kepada VOC, seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung; dan
  • Berdasarkan perjanjian tanggal 17 April 1684, Sultan Haji juga harus mengganti kerugian akibat perang tersebut kepada VOC.

Setelah meninggalnya Sultan Haji pada tahun 1687, VOC mulai mencengkeramkan pengaruhnya di Kesultanan banten, sehingga pengangkatan para Sultan Banten harus mendapatkan persetujuan dari Gubetmur Jendral Hindia-Belanda di Batavia. Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya diangkat menggantikan Sultan Haji, namun hanya berkuasa sekitar 3 tahun. Selanjutnya digantikan oleh saudaranya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin dan kemudian dikenal juga dengan gelar Kang Sinuhun ing Nagari Banten.

Perang saudara yang berlangsung di Banten menyisakan ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya. Konflik antara keturunan penguasa Banten maupun gejolak ketidakpuasan masyarakat Banten, atas ikut campurnya VOC dalam urusan Banten. Perlawanan rakyat kembali memuncak pada masa akhir pemerintahan Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin, diantaranya perlawanan Ratu Bagus Buang dan Kyai Tapa. Akibat Konflik berkepanjangan Sultan Banten kembali meminta bantuan VOC dalam meredam beberapa perlawanan rakyatnya sehingga sejak 1752 Banten telah menjadi vassal atau bagian dari VOC.

Pada Tahun 1808 Herman Willem Daendels, Gubernur jendral Hindia-Belanda 1808-1810, memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Daendels memerintahkan Sultan Banten untuk memindahkan ibukotanya ke Anyer dan menyediakan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan yang direncanakan akan dibangun di Ujung Kulon. Sultan menolak perintah Deandels yang akhirnya Daendels memerintahkan penyerangan atas Banten dan penghancuran Istana Surosowan. Sultan beserta keluarganya disekap di Puri Intan(Istana Surosowan) dan kemudian dipenjarakan di Benteng Speelwijk. Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin kemudian diasingkan dan dibuang ke Batavia. Pada 22 November 1808, Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Banten telah diserap ke dalam wilayah Hindia Belanda. Sultan Muhammad naik tahta menggantikan sultan Ishaq. Pada masa kekuasaan Sultan Muhammad, kesultanan Banten telah begitu lemah akibat dari beberapa kekuatan global yang silih berganti. mempengaruhi kesultanan Banten. Ibukota Kesultanan kemudian dipindahkan ke Pandeglang. Namun pada masa kolonial Inggris, sekitar tahun 1813, Sultan Muhammad dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles, dan sekaligus mengakhiri riwayat kesultanan banten.(wikipedia)

Belanda kembali menguasai Banten setelah sebelumnya direbut oleh Inggris. Pada 1 januari 1926 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan untuk pembaharuan sistem desentralisasi dan dekonsentrasi yang lebih luas. Di Pulau Jawa dibentuk pemerintahan otonom provinsi. Provincie West Java adalah provinsi pertama yang dibentuk di wilayah Hindia Belanda yang diresmikan dengan surat keputusan tanggal 1 Januari 1926, dan diundangkan dalam:
Staatsblad(Lembaran Negara) 1926 No. 326, 1928 No.27 jo No.28, 1928 no. 438, dan 1932 no. 507.

Banten menjadi salah satu keresidenan yaitu Bantam Regentschappen dalam Provincie West Java disamping Batavia, Buitenzorg (Bogor), Preanger(Priangan), dan Cirebon. Dalam Staatsblad Nederlands Indie tahun 1828 No. 81, Keresidenan banten dibagi menjadi 3 kabupaten, yaitu:
1. Kabupaten Utara yaitu Serang
2. Kabupaten Selatan yaitu Lebak
3. Kabupaten Barat yaitu Caringin
Kabupaten Utara atau Serang dibagi lagi menjadi beberapa Kewedanan, yaitu:
1. Kewedanan Serang (Kecamatan Kalodian dan Cibening)
2. kewedanan Banten (Kecamatan Banten, Serang dan Nejawang)
3. Kewedanan Ciruas (Kecamatan Cilegon dan Bojonegara)
4. Kewedanan Cilegon (Kecamatan Terate, Cilegon dan Bojonegara)
5. Kewedanan Tanara (Kecamatan Tanara dan Pontang)
6. Kewedanan baros (Kecamatan Regas, Ander, dan Cicandi)
7. Kewedanan Kolelet (Kecamatan Pandeglang dan Cadasari)
8. Kewedanan Ciomas (Kecamatan Ciomas Barat dan Ciomas Utara)
9. Kewedanan Anyer

Berdasarkan SK Gubernur Jendral Hindia Belanda tanggal 24 Nopember 1887 No. 1/c tentang batas Kota Serang dan bagian Kota Pandeglang, Caringin dan Lebak Pasal 29, 31, 33, 67c dan Reglement (STBL Van Nederlanch Indie Tahun 1925 no. 380 LN. 1924 No. 74 Pasal 1) maka ditunjuk Kewedanan Pandeglang, Menes, Caringin, dan Cibaliung.

Kemudian berdasarkan Surat Menteri Jajahan tanggal 13 dan 20 Nopember 1873 no. LAA.AZ.No. 34/290 dan 28/2165 menetapkan bahwa:
1. Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer dan Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan;
2. Bupati mempunyai pembantu yaitu Mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden;
3. Kepala Distrik mempunyai gelar Jabatan Wedana dan Onder Distrik mempunyai gelar Jabatan Asisten Wedana.

Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya Kabupaten Pandeglang dibagi 9 distrik atau Kewedanan sebagai berikut:
1. Kewedanan Pandeglang
2. Kewedanan baros
3. Ciomas
4. Kolelet
5. cimanuk
6. Caringin
7. Panimbang
8. Menes
9. Cibaliung

Menurut data di atas, Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada pemerintahan. lebih jelas lagi dalam ordonansi 1877 Nomor 224 tentang batas-batas Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 Nomor IX maka jelas Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri tidak di bawah penguasaan Keresidenan Banten.

Dari fakta-fakta tersebut diatas dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

  • Pada Tahun 1828, Pandeglang sudah merupakan pusat pemerintahan Distrik;
  • Pada Tahun 1874, Pandeglang merupakan Kabupaten;
  • Pada Tahun 1882, Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanan;
  • Pada Tahun 1925 Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri.

Atas dasar kesimpulan diatas, maka telah disepakati bersama bahwa tanggal 1 April 1874 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang.

Kami segenap Staf dan Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengucapkan Selamat Hari Jadi Kabupaten Pandeglang ke 141 .

semoga semakin BERKAH untuk Masyarakatnya..amin..

Last Updated on Wednesday, 01 April 2015 10:35
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 67 guests online

Pengunjung

809720
Hari IniHari Ini273
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini2061
Bulan IniBulan Ini11930
SemuaSemua809720