Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Evaluasi dan Pemantapan Potensi Air Bersih Gunung Honje

Evaluasi dan Pemantapan Potensi Air Bersih Gunung Honje

Thursday, 22 December 2011 11:53 Admin TNUK
Print PDF

 

EVALUASI DAN PEMANTAPAN POTENSI AIR BERSIH GUNUNG HONJE SERTA MANFAATNYA BAGI MASYARAKAT
Gunung Honje sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan penyedia air bagi 14 (empat belas) Desa penyangga terdekat. Sumberdaya air, terutama air permukaan di sekitar kawasan Gunung Honje telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, pertanian, perikanan air tawar, peternakan, industri rumah tangga, dan industri pertambangan.
Terdapat 32 (tiga puluh dua) sungai yang teridentifikasi di kawasan Gunung Honje dengan fluktuasi aliran air pada musim kemarau dan musim hujan berbeda sangat nyata. Di musim kemarau sungai-sungai kering dan di musim hujan sungai-sungai melimpah airnya. Hal ini disebabkan rusaknya fungsi hidrologis dari hutan-hutan yang ada di bagian hulu sungai akibat perambahan hutan oleh masyarakat.
Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air meliputi; 1) adanya kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan; 2) penggunaan air yang berlebihan dan kurang efesien; 3) penyempitan dan pendangkalan sungai; 4) pencemaran air permukaan dan air tanah; 5) erosi sebagai akibat pengrusakan hutan.
Permasalahan air yang semakin komplek ini menuntut kita untuk mengelola sumberdaya air sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat dengan baik. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang sumberdaya air, pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air.
Untuk menjaga agar air tetap mengalir dan memenuhi kebutuhan masyarakat diperlukan upaya yang tidak murah. Kesadaran dan tingkat pengetahuan yang masih rendah mempersulit upaya tersebut. Upaya untuk mempertahankan fungsi Gunung Honje sebagai sumber dan daerah resapan air ini kurang mendapatkan penghargaan dari masyarakat.
Untuk meningkatkan kesadaran dan tingkat pengetahuan untuk mempertahankan fungsi Gunung Honje sebagai sumber dan daerah tangkapan air diperlukan identifikasi dan sosialisasi potensi sumberdaya air penyedia air bersih serta adanya kesepakatan bersama antara masyarakat sebagai pengguna dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon sebagai instansi yang berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan dalam penggunaan sumberdaya air yang berasal dari dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dan untuk mewujudkan hal tersebut pada bulan Desember 2011, Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengadakan kegiatan evaluasi dan pemantapan potensi air bersih Gunung Honje serta manfaatnya bagi masyarakat.
Kegiatan ini dilakukan pada 10 (sepuluh) Desa dan 11 (sebelas) Badan Pengelola Air pada Desa-desa tersebut diantaranya adalah Desa Tunggaljaya, Desa Tamanjaya, Desa Kertamukti, Desa Cigorondong, Desa Padasuka, Desa Mangkualam, Desa Kertajaya, Desa Cimanggu, Desa Cibadak, Desa Rancapinang dan Desa Kramatjaya.
Dari kegiatan evaluasi dan pemantapan potensi air bersih tersebut disepakati beberapa hal yaitu 1). semua stakeholder akan mengelola potensi air bersih dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat dengan tidak meninggalkan azas kelestarian, 2). dalam usaha pengelolaan potensi air bersih yang berasal dari kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon, dibutuhkan adanya peningkatan kinerja dan sosialisasi baik mengenai kelembagaan yang mengelolanya maupun mengenai kesepahaman dan kesepakatan yang telah ada di setiap Badan Pengelola Air tersebut, 3). Dalam pelaksanaannya diperlukan peran serta instansi pemerintah, swasta dan lembaga lain dalam membantu pembangunan instalasi air pada masing-masing Desa, 4) akan dibentuk tim perumus untuk membahas kesepahaman dan kesepakatan para Kepala Desa dan Ketua Badan Pengelola Air (BPA) dalam pemanfaatan dan pengelolaan air, kemudian dilakukan evaluasi baik mengenai pelaksanaan maupun kinerjanya, 5). Diperlukan adanya program rehabilitasi hutan di sekitar sumber air dan aliran sungai dengan jenis pohon yang mempunyai daya serap air yang tinggi dan dapat menyimpan air seperti bambu, pohon teureup dan pohon dadap serta jenis pohon lainnya yang berakar serabut.

EVALUASI DAN PEMANTAPAN POTENSI AIR BERSIH GUNUNG HONJE SERTA MANFAATNYA BAGI MASYARAKAT

 

 

Gunung Honje sebagai bagian dari kawasan Taman Nasional Ujung Kulon merupakan kawasan penyedia air bagi 14 (empat belas) Desa penyangga terdekat. Sumberdaya air, terutama air permukaan di sekitar kawasan Gunung Honje telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, pertanian, perikanan air tawar, peternakan, industri rumah tangga, dan industri pertambangan.

Terdapat 32 (tiga puluh dua) sungai yang teridentifikasi di kawasan Gunung Honje dengan fluktuasi aliran air pada musim kemarau dan musim hujan berbeda sangat nyata. Di musim kemarau sungai-sungai kering dan di musim hujan sungai-sungai melimpah airnya. Hal ini disebabkan rusaknya fungsi hidrologis dari hutan-hutan yang ada di bagian hulu sungai akibat perambahan hutan oleh masyarakat.

Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air meliputi; 1) adanya kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan; 2) penggunaan air yang berlebihan dan kurang efesien; 3) penyempitan dan pendangkalan sungai; 4) pencemaran air permukaan dan air tanah; 5) erosi sebagai akibat pengrusakan hutan.

Permasalahan air yang semakin komplek ini menuntut kita untuk mengelola sumberdaya air sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat dengan baik. Berdasarkan UU No 7/2004 tentang sumberdaya air, pengelolaan sumberdaya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumberdaya air, pendayagunaan sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak air.

Untuk menjaga agar air tetap mengalir dan memenuhi kebutuhan masyarakat diperlukan upaya yang tidak murah. Kesadaran dan tingkat pengetahuan yang masih rendah mempersulit upaya tersebut. Upaya untuk mempertahankan fungsi Gunung Honje sebagai sumber dan daerah resapan air ini kurang mendapatkan penghargaan dari masyarakat.

Untuk meningkatkan kesadaran dan tingkat pengetahuan untuk mempertahankan fungsi Gunung Honje sebagai sumber dan daerah tangkapan air diperlukan identifikasi dan sosialisasi potensi sumberdaya air penyedia air bersih serta adanya kesepakatan bersama antara masyarakat sebagai pengguna dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon sebagai instansi yang berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan dalam penggunaan sumberdaya air yang berasal dari dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dan untuk mewujudkan hal tersebut pada bulan Desember 2011, Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengadakan kegiatan evaluasi dan pemantapan potensi air bersih Gunung Honje serta manfaatnya bagi masyarakat.

Kegiatan ini dilakukan pada 10 (sepuluh) Desa dan 11 (sebelas) Badan Pengelola Air pada Desa-desa tersebut diantaranya adalah Desa Tunggaljaya, Desa Tamanjaya, Desa Kertamukti, Desa Cigorondong, Desa Padasuka, Desa Mangkualam, Desa Kertajaya, Desa Cimanggu, Desa Cibadak, Desa Rancapinang dan Desa Kramatjaya.

Dari kegiatan evaluasi dan pemantapan potensi air bersih tersebut disepakati beberapa hal yaitu 1). semua stakeholder akan mengelola potensi air bersih dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat dengan tidak meninggalkan azas kelestarian, 2). dalam usaha pengelolaan potensi air bersih yang berasal dari kawasan konservasi Taman Nasional Ujung Kulon, dibutuhkan adanya peningkatan kinerja dan sosialisasi baik mengenai kelembagaan yang mengelolanya maupun mengenai kesepahaman dan kesepakatan yang telah ada di setiap Badan Pengelola Air tersebut, 3). Dalam pelaksanaannya diperlukan peran serta instansi pemerintah, swasta dan lembaga lain dalam membantu pembangunan instalasi air pada masing-masing Desa, 4) akan dibentuk tim perumus untuk membahas kesepahaman dan kesepakatan para Kepala Desa dan Ketua Badan Pengelola Air (BPA) dalam pemanfaatan dan pengelolaan air, kemudian dilakukan evaluasi baik mengenai pelaksanaan maupun kinerjanya, 5). Diperlukan adanya program rehabilitasi hutan di sekitar sumber air dan aliran sungai dengan jenis pohon yang mempunyai daya serap air yang tinggi dan dapat menyimpan air seperti bambu, pohon teureup dan pohon dadap serta jenis pohon lainnya yang berakar serabut.

 

Last Updated on Thursday, 22 December 2011 12:12
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 57 guests online

Pengunjung

868140
Hari IniHari Ini132
KemarinKemarin572
Minggu IniMinggu Ini1340
Bulan IniBulan Ini10470
SemuaSemua868140