Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas 17.000 Ha ini memiliki berbagai potensi See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini 38.000 Ha. Kegiatan wisata al See more details

Pulau Handeleum

                                  Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. P See more details

Pulau Peucang

                                  Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang d See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home JRSCA Info Terkini Info Terkini

Info Terkini

Friday, 07 January 2011 14:26 Admin TNUK
Print PDF

DESKRIPSI PEMBANGUNAN

JAVAN RHINO STUDY AND CONSERVATION AREA

(Areal Studi dan Konservasi Badak Jawa)

DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

KEMENTERIAN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Desember, 2012

I. Latar Belakang

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan salah satu dari lima taman nasional pertama di Indonesia yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 284/Kpts-II/1992 dengan tujuan utama untuk melestarikan badak jawa (Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822). TNUK mempunyai luas 122.956 ha yang terdiri dari 78.619 ha daratan dan 44.337 ha perairan laut terletak di Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten.

Pada tahun 1992, Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site dengan Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409. TNUK merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Pulau Jawa. Saat ini TNUK merupakan habitat terakhir badak jawa (Rhinocerous sondaicus), setelah pada April 2010 IUCN mengumumkan kepunahan badak jawa di Cat Loc-Cat Thien National Park di Vietnam Selatan.

Berdasarkan Red List Book IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), badak jawa diklasifikasikan sebagai satwa sangat terancam punah. Sedangkan CITES (Convention of International Trade in Endangered Species of Wildlife Fauna and Flora) mengkategorikan badak jawa dalam kelompok Appendix I, yang artinya segala bentuk perdagangan termasuk produk turunannya dilarang oleh peraturan internasional. Pemerintah Indonesia memasukkan badak jawa ke dalam klasifikasi satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

Berdasarkan hasil monitoring dengan camera video trap tahun 2011, jumlah populasi badak jawa yang tertangkap camera sebanyak 35 ekor yang terdiri dari 22 ekor jantan dan 13 ekor betina. Dari populasi tersebut terdapat 5 ekor anak badak yang terdiri dari 3 ekor jantan dan 2 ekor betina. Populasi kecil yang hanya terdapat pada satu areal tersebut memiliki resiko kepunahan yang tinggi. Oleh sebab itu perlu segera dilakukan berbagai upaya untuk mendapatkan tingkat populasi yang secara jangka panjang lebih terjamin kelestariannya.

Untuk menyelamatkan badak jawa dari kepunahan, Pemerintah Indonesia berdasarkan Permenhut Nomor 43 Tahun 2007 telah menetapkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia Tahun 2007-2017. Berdasarkan strategi dan rencana aksi tersebut, salah satu rekomendasi jangka pendek (2007-2012) yang perlu segera dilakukan adalah membangun sanctuary (suaka khusus)badak jawa. Selanjutnya berdasarkan hasil pertemuan AsRSG (Asian Rhino Specialis Group) tanggal 2-3 Maret 2009, disepakati untuk membangun Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di Taman Nasional Ujung Kulon.

Pada tanggal 21 Juni 2010, Gubernur Banten bersama dengan Menteri Kehutanan telah melakukan launching pelaksanaan pembangunan JRSCA di Pulau Peucang TNUK. Pada saat yang bersamaan pemerintah melalui Menteri Kehutanan menetapkan dan mendeklarasikan The Global Day of Javan Rhino.


II. Dasar Pelaksanaan

Dasar pelaksanaan pembangunan JRSCA di TNUK adalah :

III. Tujuan

Tujuan pembangunan JRSCA adalah :

  1. Mengembangbiakkan badak jawa secara alami untuk mencapa

  2. i tingkat populasi yang viable (dapat hidup berkelanjutan) di TNUK.

  3. Sebagai areal khusus untuk melakukan studi ekologi, perilaku dan teknik pembinaan habitat badak jawa.

  4. Sebagai areal khusus untuk melakukan konservasi badak jawa secara lebih intensif.

  5. Sebagai areal khusus untuk pengembangan ekowisata berbasis konservasi badak jawa yang diharapkan dapat berkontribusi bagi peningkatan kehidupan masyarakat dan pembangunan wilayah.

  6. Meningkatkan pemahaman dan kepedulian para pihak terhadap upaya konservasi badak jawa.

IV. Lokasi

Lokasi pembangunan JRSCA berada pada bagian selatan Gunung Honje TNUK dengan luas sekitar 5.100 Ha. Peta Lokasi JRSCA dapat dilihat pada lampiran.


V. Tahapan Pelaksanaan

Pembangunan JRSCA dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut :
1. Penyusunan Dokumen Perencanaan
Beberapa dokumen perencanaan yang akan disusun dalam pembangunan JRSCA adalah Master Plan, Detail Enginering Design (DED), dan Standar Operasional Prosedur (SOP).

2. Sosialisasi
Sosialisasi dilakukan melaluifocus group discussion (FGD),wokshop, seminar, dan penyebaran informasi melalui poster, leaflet, media cetak dan elekltronik

3. Pembinaan Habitat
Pembinaan habitat dilakukan dengan merehabilitasi areal hutan bekas perambahan, eradikasi tumbuhan langkap (Arenga obstusifolia), dan pengkayaan tumbuhan pakan
badak jawa

4.Pembangunan Sarana-prasarana
Beberapa jenis sarana prasarana yang akan dibangun antara lain;
a). Pagar Kawat Beraliran Listrik Kejut
Tujuan pembangunan pagar kawat beraliran listrik kejut adalah sebagai batas agar badak jawa tidak keluar dari areal JRSCA.
Pagar kawat tersebut akan dibangun pada sisi timur areal JRSCA sepanjang 8,2 km, yang terdiri dari dua ruas yaitu pada bagian utara antara blok Cilintang sampai
blok Cimahi sepanjang sekitar 5,4 km dan bagian selatan antara blok Bangkonol sampai blok Tanjung Sodong sepanjang sekitar 2,8 km.
Pagar akan dibangun dengan spesifikasi sebagai berikut :
  1. tinggi pagar 1,60 m dengan kawat seling 4 jalur dan jarak antar kawat 40 cm,
  2. kawat yang teraliri listrik kejut berjumlah 3 jalur.
  3. listrik yang dialirkan pada kawat, tidak bersifat mematikan terhadap manusia atau satwa yang menyentuhnya, tetapi hanya menimbulkan efek kejut.
Gambar 1. Desain pagar kawat beraliran listrik kejut
Gambar 2. Contoh pagar kawat beraliran listrik kejut di Taman Nasional Way Kambas
Propinsi Lampung.

b). Jalan Patroli
Pembangunan jalan disepanjang pagar ditujukan khusus sebagai jalan patroli, monitoring, studi dan penelitian serta untuk kepentingan lain yang mendukung JRSCA
(bukan jalan umum). Jalan patrol akan dibangun dengan spesifikasi sebagai berikut :
  1. Lebar jalan patroli 5 meter, tanpa jembatan yang memotong hulu sungai dan konstruksi yang meminimalkan dampak ekologi.
  2. Tidak menggunakan alat berat tetapi menggunakan tenaga manusia.
  3. Seminimal mungkin melakukan penebangan pohon dan diprioritaskan pada lahan kosong.
  4. Apabila terpaksa dilakukan penebangan pohon maka diijinkan dibawa keluar kawasan TNUK.
c). Pondok Kerja
Sebagai pusat aktifitas pengelolaan JRSCA (base camp) akan dibangun pondok kerja sebanyak 1 (unit) dengan luasan sekitar 200 m2 di Legon Pakis.
d). Pos Jaga
Pada titik-titik strategis di sepanjang jalan patroli akan dibangun pos jaga. Pos jaga yang akan dibangun sebanyak 5 (lima) unit.

5. Persiapan Pengelolaan
Tahapan penting pasca pembangunan adalah mempersiapkan pengelolaan JRSCA secara jangka panjang, yang meliputi pembentukan lembaga pengelola, penyediaan
SDM, sarana-prasarana, dan dana operasional.


VI. Kerjasama

Dalam pelaksanaan pembangunan JRSCA, pemerintah dalam hal ini Balai Taman Nasional Ujung Kulon dibantu oleh Yayasan Badak Indonesia (YABI). YABI adalah organisasi nirlaba yang bergerak dalam usaha melestarikan dan menyelamatkan badak Indonesia yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di TNUK dan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Pulau Sumatera.


VII. Penutup

Upaya konservasi badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon memerlukan dukungan dari berbagai pihak, agar spesies endemik yang hanya bisa dijumpai di Taman Nasional Ujung Kulon ini tidak menjadi sebuah cerita bagi generasi penerus dimasa yang akan datang.

Labuan 27 Desember 2012

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon,

Dr. Ir. Moh. Haryono, M. Si

NIP. 19640108 199003 1 002

LAMPIRAN

Peta Tapak JRSCA, Areal Intensif Pengelolaan Badak Jawa, Jalan Patroli dan Pagar yang disepakati para pihak

Penandatanganan Prasasti Oleh Menteri Kehutanan dan Gubernur Banten pada saat launching JRSCA di Pulau Peucang tanggal 21 Juni 2010

Last Updated on Wednesday, 31 July 2013 15:51
the world heritage



Kategori

We have 25 guests online

Pengunjung

147705
Hari IniHari Ini318
KemarinKemarin363
Minggu IniMinggu Ini2721
Bulan IniBulan Ini5207
SemuaSemua1477058