Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home JRSCA Mengenal JRSCA

Mengenal JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area)

Sunday, 20 December 2009 21:06 Admin TNUK

RINGKASAN EKSEKUTIF

PENYEMPURNAAN MANAJEMEN DAN RENCANA TAPAK PEMBANGUNAN

Javan Rhino Study & Conservation Area

 

PENDAHULUAN

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus, Desmarest 1822) merupakan salah satu mamalia terlangka di dunia yang kelestarian populasinya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menjadi perhatian seluruh dunia.  Populasi badak Jawa di TNUK merupakan satu-satunya populasi yang secara potensial masih memungkinkan untuk diselamatkan dari kepunahan (Rhino Qolloquium, 1993) melalui upaya serius dari seluruh pihak. Populasi Badak Jawa di TNUK diperkirakan 42-54 ekor (BTNUK, 2010), sedangkan berdasarkan hasil Video Trapping yang dilakukan oleh Tim Monitoring Badak Jawa BTNUK tahun 2011 hanya ditemukan 35 individu yang dipastikan berbeda dengan jumlah jantan 22 ekor dan betina 13 ekor.

Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Menteri No. 43/Menhut-II/2007 tentang Rencana Aksi Konservasi Badak di Indonesia Tahun 2007-2017. Rekomendasi jangka pendek selama periode 2007-2012 adalah: (1) mempertahankan dan meningkatkan 20 % populasi Badak Jawa di dalam TNUK; (2) Mengembangkan populasi kedua Badak Jawa di luar TNUK melalui translokasi, setelah menetapkan habitat yang aman dan memiliki luas memadai (> 400.000 Ha); (3)  Membangun “sanctuary” sebagai jaminan bagi konservasi insitu di TNUK.  Menindak-lanjuti Strategi dan Rencana aksi tersebut, pada tanggal 2-3 Maret 2009 dilakukan pertemuan oleh AsRSG (Asian Rhino Specialis Group) yang merekomendasikan Pembuatan Suaka khusus (Rhino Study and Conservation Area) sebagai langkah awal untuk mengembangkan habitat kedua bagi Badak jawa. Diharapkan suaka tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pengetahuan tentang Badak jawa dan untuk mengidentifikasi cara paling aman dalam pemeliharaan dan pemindahan/translokasi Badak jawa. Berdasarkan pokok pikiran di atas, Yayasan Badak Indonesia (YABI) telah menyusun proposal persiapan pembangunan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Proposal tersebut telah mendapatkan persetujuan Direktorat Jenderal PHKA dan mendapatkan pendanaan dari International Rhino Foundation (IRF). Pembangunan JRSCA diluncurkan (launching) oleh Gubernur Banten bersamaan dengan deklarasi hari Badak Jawa se Dunia oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 21 Juni 2010.

Pada saat YABI mulai melaksanakan pembangunan JRSCA dengan membuka kawasan untuk pembangunan pagar, terjadi beberapa tanggapan negatif dari beberapa pihak, utamanya terkait dengan teknis pembukaan lahan dan kekhawatiran atas dampak negatif terhadap sistem ekologi TNUK akibat pembangunan pagar. Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan pembangunan pagar untuk sementara dihentikan dan dilakukan serangkaian pertemuan untuk mendapatkan masukan dari para pihak. Melalui proses tersebut, disepakati penunjukan Tim Kajian yang penugasannya didasarkan atas Surat Keputusan Dirjen PHKA yang dilengkapi dengan TOR penyempurnaan Manajemen dan Rencana Tapak Pembangunan JRSCA.

Dalam proses dialog para pihak kunci yang berkepentingan dengan konservasi Badak Jawa, ketiga rekomendasi jangka pendek konservasi Badak Jawa yang tertuang dalam Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia, diputuskan untuk diakomodasikan sekaligus melalui konsep JRSCA, walaupun untuk rekomendasi butir 2 terbatas pada tahap persiapan. Fokus JRSCA dengan demikian adalah mengembangkan habitat yang dikelola secara intensif untuk memperluas habitat alamiah Badak Jawa di TNUK guna mewujudkan 4 fungsi penting, yaitu: (1) Meningkatkan populasi Badak Jawa di habitat alamnya melalui pengelolaan habitat yang intensif; (2) Mempersiapkan individu Badak Jawa untuk ditranslokasikan ke habitat kedua yang telah disiapkan secara matang sebelumnya; (3) Mengembangkan teknik konservasi eksitu Badak Jawa; (4) Mengembangkan ekoturisme berbasis kemitraan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Untuk mewujudkan ke-4 fungsi tersebut berbagai riset dan riset aksi menjadi prasyarat kunci yang harus melibatkan seluruh pakar yang relevan, baik nasional maupun internasional.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi, aspirasi para pihak kunci dan proses-proses intensif yang dilakukan dalam pertemuan Tim Penyempurnaan Manajemen dan Rencana Tapak JRSCA disepakati bahwa fokus penyempurnaan JRSCA mencakup: (1) Definisi dan batasan mengenai konsep JRSCA; (2) Evaluasi dan penetapan tapak JRSCA secara menyeluruh; (3) Arahan kebijakan dan rencana umum pengelolaan JRSCA; (4) Arahan pengembangan kelembagaan JRSCA; dan (5) Review pembangunan pagar untuk menetapkan keputusan pelaksanaan pembangunannya.


PENTINGNYA JRSCA

Badak Jawa di TNUK merupakan satu-satunya populasi yang memiliki potensi untuk menyelamatkan spesies terlangka di dunia ini dari kepunahan, namun pengelolaan TNUK selama beberapa dasa warsa menunjukkan bahwa populasi Badak Jawa masih mengalami berbagai tekanan akibat aktivitas manusia (perambahan, pembalakan tanpa izin, perburuan dan penyempitan habitat akibat adanya invasi Langkap (Arenga obtusifolia).  Sebagai akibatnya populasi Badak Jawa cenderung mengalami penurunan terus menerus.  Dalam konteks ini, para ahli Badak Jawa se dunia bersepakat bahwa pengelolaan intensif Badak Jawa di habitat alaminya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan. Untuk itu JRSCA direkomendasikan untuk dibangun sebagai media pengembangan adi-praktis (best practices) pengelolaan Badak Jawa yang mendapatkan dukungan kebijakan mengenai keleluasaan dalam menerapkan intensitas pengelolaan Badak Jawa di “areal khusus” yang merupakan bagian dari habitat alaminya.


Penerapan pengelolaan intensif sub populasi Badak Jawa di areal JRSCA membutuhkan kesadaran dan dukungan berbagai pihak agar Badak Jawa dapat diselamatkan dari kepunahan.  Pengelolaan intensif JRSCA diharapkan dapat menghasilkan paket-paket ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai basis pengembangan adi-praktis pengelolaan Badak Jawa secara institu, eksitu, maupun translokasi yang diperlukan untuk membangun populasi kedua Badak Jawa, khususnya di Propinsi Banten.  Selain itu, pengelolaan intensif JRSCA diharapkan mampu memperluas habitat alam Badak Jawa sehingga dapat meningkatkan populasi alami Badak Jawa hingga 20 % dari populasi saat ini, menyediakan individu terseleksi yang siap ditranslokasikan ke habitat kedua, serta individu Badak Jawa hasil penerapan teknologi pengembangbiakan secara insitu/exsitu (semi alami).


PENGERTIAN DAN BATASAN JRSCA

Dalam Strategi dan Rencana Aksi Badak Jawa terdapat 3 tujuan dan target jangka pendek (2007-2012) yang menjadi dasar pembangunan JRSCA, namun hingga pembangunan pagar di laksanakan definisi dan batasan mengenai JRSCA belum disepakati para pihak.  Berdasarkan mandat legal tersebut dan proses-proses diskusi dengan para pihak, pengertian dan batasan JRSCA yang disepakati adalah:

“Area tertentu yang cukup luas dan merupakan bagian dari lansekap alami habitat Badak Jawa yang dikelola secara intensif dan terencana sebagai perluasan habitat untuk meningkatkan populasi alami Badak Jawa di TNUK melalui penerapan teknik pengembangbiakan yang relevan, mempersiapkan individu Badak Jawa terpilih untuk ditranslokasikan ke habitat kedua, dan mengembangkan ekoturisme berbasis kemitraan masyarakat, BTNUK dan dunia usaha”.

Secara eksplisit, JRSCA merupakan areal khusus yang tertutup dari segala aktivitas yang dapat mengganggu perkembangbiakan populasi Badak Jawa dan menjadi ajang untuk melakukan studi/riset yang didisain secara sistematis untuk meningkatkan pengetahuan mengenai biologi, ekologi dan perilaku sebagai basis bagi pengembangan adi-praktis pengelolaan badak jawa, termasuk teknik immobilisasi dan translokasi Badak Jawa.  Kerangka Konseptual JRSCA disajikan secara diagramatik pada Gambar 1.


Gambar 1.      Kerangka Konseptual JRSCA yang menyatukan 3 sasaran jangka pendek mandat Rencana Aksi Konservasi Badak Jawa


EVALUASI DAN PENETAPAN TAPAK JRSCA

JRSCA yang disepakati para pihak merupakan areal yang berbatasan dengan Honje Selatan, memliki luas  total lk. 5.100 Ha, mencakup areal seluas lk. 3748 Ha (awal JRSCA ) untuk pengelolaan Badak Jawa secara intensif. Pertimbangan utama dalam penetapan tapak JSRCA adalah memaksimumkan pengelolaan intensif seluruh areal yang potensial untuk menjadi habitat Badak Jawa, tanpa menutup kemungkinan pengembangan ekowisata berbasis kemitraan antara masyarakat, BTNUK dan swasta.  Tapak JRSCA disajikan pada Gambar 2.  Tapak JRSCA harus ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan sebagai zona khusus pengelolaan intensif Badak Jawa dan dipisahkan dari status zona rimba dalam pengelolaan TNUK.   Kebijakan ini perlu diintegrasikan dengan kebijakan JRSCA secara keseluruhan, mencakup arahan pengelolaan dan kelembagaan yang seharusnya dikembangkan. Sehingga JRSCA dapat memenuhi harapan untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan, dan mampu mengembangkan mekanisme pendanaan berbasis kemitraan publik-privat.


ARAHAN KEBIJAKAN DAN RENCANA UMUM PENGELOLAAN JRSCA

JRSCA merupakan program nasional yang mempertaruhkan kelestarian Badak Jawa di mata dunia Internasional, sehingga membutuhkan dukungan kebijakan yang kokoh dan melibatkan partisipasi aktif para pihak kunci yang relevan.   Kebijakan yang dinyatakan dalam Peraturan Menteri Kehutanan mengenai penetapan lokasi JRSCA, dilengkapi dengan rencana umum pengelolaan dan arahan kelembagaan JRSCA yang didukung oleh para pihak, akan memberikan landasan yang memadai guna menarik dukungan internasional.  Sebagai basis untuk menetapkan kebijakan, Visi, Misi, Tujuan, Sasaran dan Hasil JRSCA dijabarkan sebagai berikut:


VISI 2020:

JRSCA menjadi pusat keunggulan (center of excellence) konservasi Badak Jawa bertaraf internasional dan mandiri


MISI:

Untuk mencapai visi tersebut misi JRSCA adalah: “Menyelamatkan Badak Jawa dari Kepunahan melalui penerapan adi praktis berbasis pendekatan ilmiah”


TUJUAN:

Mengembangbiakkan populasi Badak Jawa pada tingkat yang viable di TNUK dan menyiapkan sub populasi Badak Jawa yang akan ditranslokasikan di habitat kedua

Berdasarkan visi, misi, dan tujuan JRSCA di atas, sasaran, hasil (outcome) dan indikator keberhasilan pada masing-masing hasil disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.  sasaran, hasil (outcome) dan indikator keberhasilannya

SASARAN

HASIL (OUTCOME)

INDIKATOR

  1. Sub populasi di JRSCA dapat menghasilkan individu Badak Jawa yang siap ditranslokasi pada habitat kedua dan/atau menambah populasi alaminya di TNUK

1.1.   Sub Populasi yang mampu berkembang biak di JRSCA pada tahun 2014

1.1.1.     Individu Badak Jawa terpilih dapat diidentifikasi dari hasil riset aksi dan dipancing masuk ke JRSCA

1.1.2.     Hasil riset aksi biologi reproduksi dan perilaku Badak Jawa siap mendukung program breeding

1.1.3.     Hasil-hasil riset biologi, ekologi, genetik, dan perilaku Badak Jawa siap untuk memperbaiki kinerja pengelolaan Badak Jawa

1.1.4.     Desain habitat untuk pengelolaan intensif sub populasi Badak Jawa ditetapkan dan dibangun di lapangan


1.2.   Habitat Badak Jawa di JRSCA yang sesuai untuk program breeding pada tahun 2015

1.2.1.       Habitat untuk pengelolaan intensif sub populasi Badak Jawa siap di lapangan

1.2.2.       Habitat transisi untuk seleksi individu dapat dibangun

1.2.3.       Desain program breeding ditetapkan dan diimplemta-sikan di lapangan


1.3.   Individu Badak yang siap ditranslokasikan pada tahun 2018

1.3.1.    Individu Badak Jawa dapat dihasilkan dari program breeding dan/atau seleksi alami

1.3.2.    Teknik immobilasi Badak Jawa yang aman dapat dikuasai

1.3.3.    Minimal sepasang Badak Jawa siap di translokasikan ke habitat kedua

  1. Populasi Kedua Badak Jawa dapat dikembang-biakkan guna menjamin pertumbuhan populasi yang sehat dan viable.

2.1.   Habitat Kedua Badak Jawa yang siap untuk menerima translokasi pada tahun 2017

2.1.1.    Tapak habitat kedua dapat ditetapkan di Propinsi Banten

2.1.2.    Desain habitat kedua untuk translokasi individu Badak Jawa ditetapkan

2.1.3.    Habitat kedua siap menerima individu Badak Jawa yang ditranslokasikan


2.2.   Sub Populasi Badak Jawa di habitat kedua yang mampu berkembang biak pada tahun 2020

2.2.1.    Minimal  3 pasang Badak Jawa siap berkembang biak di habitat kedua

2.2.2.    Populasi di habitat kedua berkembang biak secara normal

  1. Ekowisata berbasis kemitraan antara masyarakat, BTNUK dan Dunia Usaha

3.1.   Peningkatan penghidupan masyarakat dari bisnis ekowisata pada tahun 2015

3.1.1.    Produk-produk wisata dengan citra konservasi Badak Jawa dapat dikemas melalui program kemitraan

3.1.2.    Kelembagaan ekowisata terkait JRSCA dan Zona Khusus berkembang

3.1.3.    Beberapa produk wisata dengan citra konservasi Badak Jawa menghasilkan modal finansial bagi masyarakat


3.2.   Dana Konservasi Badak Jawa dari bisnis ekowisata dapat diakumulasikan sejak tahun 2020

3.2.1.    Kelembagaan Trust Fund Konservasi Badak terbentuk

3.2.2.    Akumulasi endowment fund mampu memberikan kontribusi bagi pengelolaan JRSCA dan TNUK

Untuk menjalankan rencana umum pengelolaan JRSCA diperlukan dukungan kelembagaan yang mampu menampung seluruh aspirasi para pemangku kepentingan dan mampu memobilisasikan sumberdaya publik, masyarakat dan dunia usaha secara efektif dan efisien.  JRSCA merupakan program besar yang berorientasi pada penyelamatan Badak Jawa dan telah menjadi kebijakan nasional, serta mendapatkan dukungan internasional.  Keberhasilan JRSCA untuk mengembangkan populasi di TNUK dan membangun populasi kedua Badak Jawa di luar TNUK merupakan tumpuan harapan para pihak dari berbagai kalangan, sekaligus menjadi taruhan nasional di bidang konservasi spesies.  Kegagagalan JRSCA akan menurunkan pamor dan kredibilitas konservasi spesies di Indonesia. Dengan pertimbangan ini, JRSCA sebaiknya dikelola secara kolaboratif melalui pembentukan lembaga otonom yang diberi mandat khusus sebagai lembaga “co-manager” bagi BTN Ujung Kulon. Lembaga Kolaboratif (LK) JRSCA harus dikembangkan sebagai pusat keunggulan (Center of Excellence) pengelolaan Badak Jawa yang berorientasi pada pengembangan adi praktis (best practice) yang harus diimplementasikan oleh para pihak melalui mekanisme hubungan kemitraan. Rancangan LK-JRSCA secara terinci masih perlu dikaji dan dirumuskan secara partisipatif.

Posisi LK-JRSCA tidak bisa dilepaskan dari visi, misi, tujuan dan sasaran pengelolaan TNUK.  Dengan demikian identifikasi fungsi khusus LK-JRSCA perlu dilakukan agar relevan dengan visi, misi, tujuan dan sasaran pengelolaan TNUK sebagaimana disajikan pada Gambar 3.


Gambar3. Posisi LK-JRSCA terhadap Balai TNUK dan Fokus Pengembangannya


LK-JRSCA merupakan lembaga yang bertanggungjawab dalam mobilisasi para pihak dan melakukan berbagai komunikasi publik dan komunikasi politik, serta menggalang kemitraan dan dana publik guna memastikan keberhasilan program JRSCA.  Selain itu, lembaga ini bertanggung jawab dalam promosi dan pencitraan keseluruhan program jangka panjang JRSCA, sehingga JRSCA mampu meningkatkan pamor penyelamatan Badak Jawa di tingkat internasional.  Secara garis besar, mekanisme kerja LK-JRSCA, termasuk mekanisme pendanaannya disajikan pada Gambar 4.


Gambar 4. Mekanisme Kerja LK - JRSCA


Pada tahap awal LK-JRSCA diberikan mandat untuk melaksanakan Management Plan dan Rencana Tapak JRSCA yang telah disusun secara partisipatif oleh para pihak. Selain itu, selama 3-5 tahun pertama LK-JRSCA perlu mendapatkan dukungan pendanaan awal dari Pemerintah dan para pihak.  Pada saat lembaga telah terbentuk dan memiliki sumberdaya yang memadai, termasuk sumberdaya manusia yang profesional, LK-JSRCA harus mengembangkan perencanaan jangka panjang bersama para pihak kunci yang relevan, baik instansi pemerintah, LSM, masyarakat dan lembaga swasta, serta menggalang pendanaan secara mandiri.  LK-JRSCA juga bertanggungjawab untuk :

  • Menetapkan mekanisme pendanaan yang berasal dari berbagai sumber bagi implementasi program JRSCA yang relevan
  • Memastikan implementasi program oleh para pihak, bisa fokus pada riset tentang biologi, biologi reproduksi, ekologi dan perilaku Badak Jawa, tindakan pengelolaan Badak  Jawa di dalam JRSCA, pemberdayaan masyarakat atau mengembangkan bisnis ekowisata di dalam areal JRSCA.
  • Melakukan sistem monitoring dan evaluasi obyektif atas kinerja seluruh program JRSCA yang telah diimplementasikan oleh para pihak.
  • Mengembangkan mekanisme akuntabilitas kinerja, termasuk penyampaian akuntabilitas program dan keuangan kepada publik melalui media masa.

 

Pengembangan LK-JRSCA harus dilandaskan atas perencanaan jangka panjang yang mampu mendongkrak kinerja pengelolaan Badak Jawa di TNUK.  Fokus orientasi pengembangan terbagi menjadi beberapa aspek fundamental, yaitu:

  • Pengembangan lembaga kolaboratif yang menjadi arena para pihak untuk mengembangkan program kemitraan melalui kerja CoE yang handal dan terpercaya, diikuti dengan penyediaan sumberdaya awal untuk menggerakkan lembaga kolaboratif hingga mampu menjalankan roda organisasi secara mandiri. Lembaga kolaboratif merupakan syarat perlu (prasyarat) agar pengelolaan JRSCA dapat dibangun melalui prinsip-prinsip kolaborasi yang valid, berkelanjutan dan mendapatkan dukungan internasional.
  • LK-JRSCA yang dibentuk harus menyusun rencana program kolaboratif jangka panjang berbasis kinerja yang mengacu pada sasaran pengelolaan JRSCA yang telah ditetapkan sesuai rencana pengelolaan jangka panjang TNUK.
  • LK-JRSCA harus mengembangkan program secara terinci, yang secara langsung melibatkan para pihak kunci yang relevan dengan bidang tertentu dan memiliki prioritas tinggi untuk dikerjakan,  sekaligus mengembangkan mekanisme akuntabilitas publik kelembagaan kolaboratif yang dibangun, termasuk akuntabilitas keuangan.
  • Berdasarkan mandat yang diterima, LK-JRSCA bertanggungjawab untuk mengembangkan strategi mobilisasi sumberdaya yang dimiliki para pihak, baik pemerintah, swasta maupun publik dalam arti luas. Keseluruhan sumberdaya, khususnya dana, harus dialokasikan secara jelas, baik yang bersifat hibah maupun investasi bisnis, dan didistribusikan sesuai prioritas program melalui mekanisme pendanaan yang akuntabilitasnya tertetulusur (traceable).
  • Dalam hal investasi bisnis diproyeksikan dapat menghasilkan keuntungan finansial, mekanisme pembagian keuntungan antara pelaku bisnis, termasuk masyarakat, dengan lembaga kolaboratif harus disepakati sejak tahap perencanaan guna memutar roda kelembagaan kolaboratif secara keseluruhan.
  • Dalam hal BTNUK telah menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU, pembagian keuntungan harus dibagi dengan pengelola kawasan secara adil untuk menguatkan kapasitas pengelola.

 

Untuk menjalankan mekanisme kerja di atas, LK-JRSCA memiliki struktur organisasi sebagaimana disajikan pada Gambar5.

Adapun sumber-sumber pendanaan yang dapat membiayai pengelolaan JRSCA antara lain:

  • APBN/APBD
  • Pendapatan Negara Bukan Pajak, antara lain: yang dibayarkan melalui retribusi dan bagi hasil keuntungan dari berbagai usaha oleh pihak ketiga di bidang pariwisata alam.
  • Dana kemitraan dengan pihak LSM yang memiliki program konservasi Badak Jawa dan/atau swasta yang memiliki visi hijau, termasuk dari program CSR (Corporate Social Responsibilty).
  • Dana hibah dari kerjasama antar negara, baik yang bersifat multilateral maupun bilateral, melalui berbagai program (GEF, Debt for Nature Swap, donor lainnya).
  • Dana publik (donasi terbuka, program Badak Asuh, dana dari yayasan tertentu dsb.)
  • Hasil pembagian keuntungan dari usaha/bisnis yang dilakukan dalam konteks pengelolaan JRSCA secara kolaboratif.
  • Trust Fund, dana yang berasal dari berbagai sumber (trustee) dan disimpan dalam “trust account” yang dikelola untuk meningkatkan jumlahnya, sehingga  dapat digunakan untuk membiayai penyelamatan Badak Jawa.
  • Dana Abadi (Endowment Fund), yaitu dana yang berasal dari berbagai sumber dan diakumulasikan secara bertahap dalam suatu bank account, serta dikelola dengan cara tertentu, sehingga menghasilkan akumulasi jumlah uang yang memadai untuk menghasilkan bunga guna memenuhi kebutuhan penyelamatan Badak Jawa setiap tahun.


Gambar 5. Struktur Organisasi LK- JRSCA


STRATEGI IMPLEMENTASI DAN RUTE PEMBANGUNAN JRSCA

  • Untuk memastikan keberhasilan JRSCA dalam melestarikan populasi Badak Jawa, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Kehutanan mengenai JRSCA yang mengatur mengenai:
  • Lokasi tapak JRSCA yang telah disepakati para pihak sebagaimana disajikan dalam laporan ini (Gambar 2).
  • Arahan pengelolaan JRSCA yang berisi visi, misi, tujuan, sasaran dan hasil (outcome) JRSCA sebagaimana disajikan dalam laporan ini.
  • Arahan pengembangan Habitat Kedua Badak Jawa yang menginstruksikan para pihak untuk segera melakukan seleksi dan penetapan tapak Habitat Kedua, diutamakan di Propinsi Banten, serta menyiapkan habitat tersebut agar siap menopang sub populasi Badak Jawa yang akan ditranslokasikan dari TNUK.
  • Arahan kelembagaan JRSCA yang menginstruksi agar segera dikembangkan lembaga kolaboratif JRSCA sebagai wujud kepedulian Indonesia dalam penyelamatan Badak Jawa dan wadah bagi seluruh pihak yang peduli pada keselamatan Badak Jawa, baik di level nasional maupun internasional.

Selain itu, strategi kunci lainnya adalah melakukan pengawalan agar langkah awal JRSCA yang telah dimulai pembangunannya oleh YABI dapat ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah dan para pihak, sehingga tujuan pembangunan JRSCA dapat mencapai tujuannya dalam jangka panjang dan mendapatkan dukungan para pihak, baik nasional dan internasional.  Pengembangan kelembagaan JRSCA secara kolaboratif perlu disepakati dan diwadahi dalam Lembaga Kolaboratif JRSCA.  Pada tahap awal Pemerintah dapat menunjuk Kelompok Kerja JRSCA untuk memfasilitasi implementasi kebijakan mengenai JRSCA dan mengawal pembentukan Lembaga Kolaboratif JRSCA.  Secara keseluruhan, rute pembangunan JRSCA disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Rute Pembangunan JRSCA secara keseluruhan

 

REVIEW PEMBANGUNAN JALAN PATROLI DAN PAGAR JRSCA

Hasil review pembangunan jalan patroli dan pagar JRSCA menunjukkan bahwa upaya memaksimumkan seluruh areal yang potensial untuk perluasan habitat Badak Jawa di TNUK mutlak tidak bisa ditawar.  Kesadaran masyarakat sekitar TNUK akan pentingnya JRSCA ditunjukkan dengan besarnya dukungan terhadap jalan patroli dan pembangunan pagar yang saat ini dihentikan akibat adanya keberatan dari beberapa pihak.  JRSCA sebagai aksi darurat penyelamatan Badak Jawa dari kepunahan membutuhkan intensitas manajemen intensif pada areal yang aman dari berbagai aktivitas manusia yang dapat menggagalkan keberhasilan pembangunan JRSCA.  Kesadaran mengenai kesenjangan hukum atas penerapan pengelolaan intensif suatu spesies di dalam taman nasional membutuhkan kebijakan khusus yang memberikan keleluasaan bagi pengelola untuk menerapkan berbagai perlakuan yang bertujuan untuk menyelamatkan Badak Jawa dari kepunahan.  Namun demikian, pengelolaan JRSCA tidak boleh mengabaikan kemungkinan dampak negatif yang dapat mengganggu stabilitas ekosistem di TNUK dan dampak sosial-ekonomi negatif yang mungkin terjadi.

Pokok-pokok hasil review pembangunan jalan patroli dan pagar JRSCA adalah sebagai berikut :

  • Sebagai tindakan penyelamatan Badak Jawa yang urgensinya sangat tinggi, JRSCA dapat diintegrasikan ke dalam pengelolaan TNUK melalui kebijakan khusus Menteri Kehutanan dan/atau Dirjen PHKA.  Berdasarkan pertimbangan intensitas pengelolaan yang sangat tinggi, kebijakan ini akan mengubah sistem zonasi yang selama ini digunakan dalam pengelolaan TNUK.
  • Pemagaran dibatasi pada areal yang rawan terhadap aktivitas manusia, namun jalan patroli tetap dibangun pada jalur sesuai yang direncanakan tanpa jembatan yang memotong hulu sungai dan konstruksi yang meminimalkan dampak ekologi.   Lokasi JRSCA yang disajikan pada Gambar 2 menunjukkan secara gamblang bahwa, selain pemagaran di jalur yang rawan terhadap aktivitas manusia, JRSCA lebih banyak memanfaatkan batas-batas alam, yang memungkinkan semua proses ekologi penting
  • tetap terjaga, baik sistem hidrologi maupun sistem pergerakan satwa liar akibat fragmentasi habitat.
  • Di sepanjang jalan patroli dan batas JRSCA yang direkomendasikan untuk tidak dipagar pada saat ini (antara Blok Cimahi dan Blok Bangkonol) perlu dilakukan pengamatan intensif dan kajian mengenai pengaruh negatif aktivitas manusia dan ternak sebagai basis pengambilan keputusan tentang tindakan pengelolaan dan pemagaran pada masa yang akan datang.
  • Sebagai tindakan pengelolaan di dalam TNUK yang telah mempertimbangkan semua aspek mengenai dampak negatif terhadap lingkungan dan ditetapkan melalui kebijakan khusus, JRSCA tidak termasuk wajib AMDAL, mengingat secara hukum AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan yang mengatur perijinan melalui penetapan kegiatan wajib AMDAL oleh kementerian terkait.  Walaupun termasuk di dalam kawasan lindung yang patut dicurigai menimbulkan dampak penting, kegiatan pengelolaan di dalam taman nasional tidak termasuk kegiatan wajib AMDAL yang ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup. JRSCA wajib menyusun rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dapat diintegrasikan dengan tindakan pengelolaan Badak Jawa yang dituangkan dalam Management Plan JRSCA.  Upaya untuk menemukan keseimbangan antara manfaat bagi populasi Badak Jawa dengan manfaat ekologi lainnya merupakan subyek kajian penting yang perlu dilakukan.
  • Untuk menggantikan fungsi pagar di bagian tengah, intensitas patroli dan tindakan pengelolaan di lapangan perlu ditingkatkan berdasarkan perencanaan yang matang.  Dalam hal ini BTNUK dan LK-JRSCA bertanggungjawab untuk menjamin keamanan Badak Jawa di areal JRSCA.
  • Untuk meminimumkan dampak negatif akibat pembangunan JRSCA perlu disiapkan Prosedur Operasi Baku (SOP) yang jelas mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam setiap kegiatan yang diperlukan dalam pembangunan JRSCA, khususnya khususnya untuk mencegah dan/atau meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem dan sosial-ekonomi.
  • Untuk menghindarkan tafsir dan respon negatif yang tidak perlu, setiap aktivitas pembangunan JRSCA perlu disosialiasikan kepada para pihak melalui berbagai cara, baik konsultasi publik secara langsung maupun melalui media massa yang sesuai.


REKOMENDASI

Berdasarkan analisis dan sintesis penyempurnaan JRSCA, Tim merekomendasikan tindak lanjut sebagai berikut:

  • Semua pekerjaan pembangunan sarana dan prasarana pembangunan JRSCA yang dilaksanakan YABI dapat dilanjutkan, tetapi harus dilakukan penyesuaian tapak pagar sebagaimana direkomendasikan Tim Penyempurnaan JRSCA yang disajikan pada Peta Gambar 2.
  • Perlu segera ditetapkan Peraturan Menteri Kehutanan mengenai JRSCA, mencakup penetapan tapak JRSCA yang dilengkapi dengan konsep, arahan pengelolaan dan kelembagaan JRSCA, termasuk pembangunan Habitat Kedua.
  • Mengingat saat ini baru tersedia rencana umum JRSCA, master plan dan Detail Engineering Design pembangunan fisik sarana prasarana JRSCA, maka perlu segera disusun dokumen Manajemen Plan JRSCA, Site Plan dan Desain Tapak bagi kegiatan utama JRSCA yang mengakomodasikan konsep pembangunan JRSCA secara utuh..
  • Perlu dibentuk Kelompok Kerja Pembentukan LK-JRSCA secara partisipatif berdasarkan prinsip kemitraan antara masyarakat, pemerintah dan swasta.  Untuk pertama kalinya LK-JRSCA yang terbentuk harus mengacu pada manajemen plan yang telah disiapkan dan dapat melakukan revisi bila dipandang perlu.  Keamanan pendanaan bagi LK-JRSCA harus dapat dijamin selama periode 5 tahun pertama sebagai modal untuk mengembangkan kemandirian lembaga.
  • Perlu sosialisasi/penyamaan persepsi diantara para pihak mengenai pembangunan JRSCA secara menyeluruh, khususnya menyangkut seluruh pembangunan fisik yang sedang dan akan dilakukan.
  • Setiap kegiatan pembangunan JRSCA perlu dilengkapi dengan prosedur operasi baku (SOP) untuk mencegah dan meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem di TNUK dan dampak negatif terhadap sistem sosial-ekonomi masyarakat lokal.
  • Perlu dilakukan seleksi, penilaian dan penetapan habitat kedua Badak Jawa, terutama di wilayah Propinsi Banten, untuk dipersiapkan bagi pengembangan populasi kedua Badak Jawa.






Bogor, 5 Januari 2012

Tim Penyempurnaan

Manajemen dan Rencana Tapak JRSCA,

KETUA,

(Prof. Dr. E.K.S. Harini Muntasib, M.S.)


Last Updated on Thursday, 13 December 2012 15:44
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 28 guests online

Pengunjung

836312
Hari IniHari Ini205
KemarinKemarin482
Minggu IniMinggu Ini2196
Bulan IniBulan Ini9806
SemuaSemua836312