Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home

Javan Rhino Sanctuary Batu Loncatan Menuju Rumah Baru

Friday, 30 April 2010 11:16 Admin TNUK
Print PDF

Beberapa peristiwa akibat perubahan iklim di Indonesia, menjadikan kondisi Badak Jawa kian memprihatinkan. Menurut Undang-undang No. 5 tahun 1990, status Badak Jawa adalah dilindungi. Menurut IUCN Badak Jawa pada tahun 1960  – 1994 termasuk  Endangered dan 1996 – 2004  termasuk Critically Endangered. Sedangkan menurut CITES, Badak Jawa masuk dalam Appendix I. Kini Badak Jawa hanya ada di National Park Cat Lok, Vietnam (5 – 7 ekor) dan Taman Nasional Ujung Kulon (50 ekor).

Last Updated on Monday, 03 May 2010 14:10 Read more...
 

Kesepakatan Pengelolaan Hutan Partisipatif

Friday, 30 April 2010 10:54 Admin TNUK
Print PDF

Balai TN. Ujung Kulon bersama dengan masyarakat Desa Rancapinang dan Cibadak sejak tahun 2009 telah meluncurkan kegiatan Pengelolaan Hutan Partisipatif. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjawab permasalahan klasik yang biasa dihadapi oleh kawasan konservasi yang berbatasan dengan masyarakat, yaitu penggarapan lahan secara ilegal.

Last Updated on Friday, 30 April 2010 12:27 Read more...
 

Hutan Gunung Honje Sebagai Penyedia Jasa Lingkungan Air Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon

Friday, 30 April 2010 10:45 Admin TNUK
Print PDF

Air adalah sumber daya yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan air minum, penyediaan pangan, maupun untuk mengelola usaha-usaha pertanian.  Kebutuhan sumber air meningkat, sementara ketersediaannya dirasakan semakin terbatas.  Demikian gambaran kondisi hubungan kehidupan manusia dan sumber daya air di wilayah sekitar kawasan Gunung Honje, Taman Nasional Ujung Kulon.  “Bak gayung bersambut”, kondisi kebutuhan dan ketersediaan air bersih dipenuhi, melalui penyediaan fasilitas air bersih bagi masyarakat, hasil kerjasama antara PT Cibaliung Sumber Daya dan Balai Taman Nasional Ujung Kulon. 

Last Updated on Monday, 03 May 2010 14:12 Read more...
 

Selayang Pandang Tentang Rencana Inventarisasi Badak Jawa Tahun 2010

Friday, 30 April 2010 10:36 Admin TNUK
Print PDF

Pengelolaan TN. Ujung Kulon dititikberatkan pada bagaimana mempertahankan keberadaan satwa langka badak jawa (Rhinoceros sondaicus, DESMAREST 1822). Hal ini disebabkan karena habitat terakhir yang memungkinkan badak jawa untuk berkembang biak secara alami hanya dapat dijumpai di kawasan Semenanjung Ujung Kulon, TN. Ujung Kulon. Satwa flagship species inilah yang menjadi dasar penunjukkan kawasan Ujung Kulon dan sekitarnya menjadi kawasan yang dilindungi dengan model pengelolaan taman nasional. Penunjukkan TN. Ujung Kulon dilakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992. Pada tahun yang sama dan dengan dasar yang sama, UNESCO melalui Komisi Warisan Dunia menetapkan TN. Ujung Kulon sebagai salah satu ‘The World Heritage Site’ dengan Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409.

Last Updated on Friday, 30 April 2010 13:27 Read more...
 

Rhino Rescue

Friday, 30 April 2010 10:20 Admin TNUK
Print PDF

Banyak orang tidak menyadari akan manfaat yang muncul dengan keberadaan spesies badak bercula satu yang meliputi manfaat sosial, ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan.  Keberadaan spesies ini memberikan nilai sosial berupa nilai-nilai budaya yang terkait dengan kearifan lokal suku Baduy dan juga kearifan penduduk di sekitar Taman Nasional Ujung Kulon yang menjunjung tinggi karakteristik yang ditunjukkan oleh spesies badak ini. Berbagai penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa spesies ini memiliki sifat: tangguh, tertib, dan toleran.  Ketangguhan badak terlihat dari kemampuannya untuk bertahan hidup selama ini dan setelah melalui berbagai tekanan bencana alam dan juga perburuan.  Ketertiban badak dapat dilihat dari perilakunya dimana masing-masing badak memiliki jalur-jalur dan ruang jelajah tertentu yang tidak mengganggu badak lain maupun spesies hewan lainnya.  Ketahanan hidup jenis satwa ini dalam kebersamaan dengan banyak jenis hidupan liar di Ujung Kulon menunjukkan tingginya sifat toleransi.

Last Updated on Friday, 30 April 2010 12:22 Read more...
 


Page 22 of 25
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 58 guests online

Pengunjung

809697
Hari IniHari Ini250
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini2038
Bulan IniBulan Ini11907
SemuaSemua809697