Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Buku Tamu

Buku Tamu

Isi Buku TamuIsi Buku Tamu:

Maria     31 July 2015 18:57 | oBiGfEeXFDH
RatingRatingRatingRatingRating
naHesPWY
Thank you for sharing and I am very happy to read about any dphloin sightings around Singapore with or without photos.I too know the frustration that comes with trying to photograph dphloins when they just dive and disappear!Its great that Singapore has so many great bloggers to share these stories!

Putranto S.     13 July 2015 04:47 | Jakarta
Dengan Hormat,

Saya baru dua kali mengantar tamu menginap di Pulau Peucang, trekking sedikit ke Cidaon, Tanjung Layar, Karang Copong, dan mampir ke Handeuleum untuk canoeing di Cigenter.

Pertama kali (2013) sedikit ramai dengan adanya anak-anak sekolah sedang liburan dan bergembira di pantai Peucang. Cuaca selama itu agak mendung. Kami datang via Sumur, kapal kayu.

Kedua kali (2015) sepi sekali, hanya 2 keluarga, 1 keluarga dari Inggris, dan pasangan yg saya bawa dari Rusia. Cuaca kali ini, “perfect”. Kali ini setelah berkunjung ke Krakatau, fastboat.

Pengalaman kedua ini sangat mengesankan.

Begitu mendarat di pantai Peucang, tamu yang saya bawa berucap “It’s Paradise !”.
Pagi sekali masih gelap setelah subuh saya ke pantai. Ternyata wanita Inggris sudah berdiri di ujung bagan dan menikmati suara alam dan memandang ke kejauhan, hutan Ujung Kulon. Putranya yang guru bahasa Inggris di Jakarta, sudah berjalan di pasir pantai di kejauhan, mengambil gambar indahnya matahari terbit dari balik hutan Ujung Kulon.

Sayapun bak wartawan mengorek pendapat mereka, dan kata si wanita: “It’s so quiet here, beautiful”. Lanjutnya dalama bahasa Inggris, “saya tidak tahu apa yang saya akan lihat waktu dibawa oleh anak saya kesini, tapi yang saya temui sangat mencengangkan, begitu tenang, indah”. Lanjutnya: “memang akomodasi penginapan ‘just basic’, tapi tidak begitu penting, karena sudah sulit menemukan tempat yang begitu sepi dan indah seperti ini, tempat ini serasa milik saya sendiri !”.

Sayapun merenung, dan berpikir: “kenapa Peucang harus seperti Bromo atau tempat lain, bahkan seperti Bali atau Gili ?”.

Peucang adalah Peucang dan memiliki ciri khas sendiri. Kesendirian, kesempatan mendengar suara alam, tidak ada tempat lain di dunia ini yang seperti Peucang, dan Peucang tidak harus seperti Maldives misalnya … pantainya harus terbuka, seperti apa adanya sekarang, karena memiliki pemandangan 180 derajat lepas luas ke hutan belantara Ujung Kulon.

Dan pantai itu adalah milik kita semua yang berkunjung kesana untuk hanya beberapa hari.

Sebelumnya, saya pernah survey jalan yang konon rusak parah dengan angkutan umum (ELF) via Sumur ke Taman Jaya (menginap di Sunda Jaya). Kesan pertama, menyedihkan.

Setelah merenung kembali, memang tidak salah kalau jalan tersebut rusak dan mungkin seharusnya dibiarkan rusak … karena kalau mulus akan ramai dengan kendaraan, Alfa dan Indo akan merambat kedalam. Saat itu Alfa dan Indo terakhir hanya ada di persimpangan Sumur.

Himbauan saya kepada pengelola Peucang dan Ujung Kulon, Pemerintah khususnya, mohon dengan sangat dipertimbangkan berbagai usulan dan konsep yang “demi kemajuan” dan “demi meningkatkan pariwisata” dan “demi mensejahterakan penduduk lokal” di Ujung Kulon.

Jangan meniru resort apung seperti Maldives untuk Peucang (wacana seperti ini ada), karena akan menutup bibir pantai milik publik yang hanya berkunjung mungkin dua malam, untuk melarikan diri dari “hutan belantara kota modern”.

Ujung Kulon dan Peucang khususnya adalah yang terakhir yang belum rusak oleh modernisasi … bagi saya, bukan Bali tapi Ujung Kulon adalah Last Paradise on Earth.

Salam dan Terimakasih,
Putranto S.

Rudi Pratama     26 June 2015 02:51 | Bandung
Salam kenal untuk bapak-bapak petugas jagawana dan staf kantor TN Ujungkulon di Labuan dari saya juragan toko online agenpembesarvimax.com di Bandung yang kasep tea :grin

Indriani     22 May 2015 20:13 |
Selamat Malam. Saya ingin bertanya untuk konservasi habitat laut di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon terdapat konservasi apa saja ya? Terimakasih

Ressy     05 May 2015 09:16 | Jatiasih
Pagiiiii
Dari 3 hingga 7 Mei 2015, anak2 kami, SD5 dari Sekolah Alam Bekasi dan Sekolah Alam Bintaro melaksanakan kegiatan Ekspedisi TNUK. Tempat-tempat yang dituju Kec. Sumur, Taman Jaya, Pulau Handeleum, Cigenter, Padang Gembalaan, Pulau Peucang, Cibom. Mudah2an dengan berbagai kegiatan seperti baksos, eksplorasi dan pembibitan mangrove, canoing, susur pantai, dan snorkling, anak2 kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan bermanfaat bagi pengembangan jatidiri dan karakter mereka, menjadi lebih bertanggung jawab serta meningkatkan ketaqwaan mereka kepada Allah SWT. Aamiin Allahumma Aamiin.


105
Catatan Buku Tamu
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 31 guests online

Pengunjung

780548
Hari IniHari Ini27
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini27
Bulan IniBulan Ini12571
SemuaSemua780548