Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita

Memperingati Hari Lahan Basah Sedunia Tanggal 2 Februari 2015

Monday, 02 February 2015 00:00 Admin TNUK
Print PDF

Logo Hari Lahan Basah Sedunia tahun 2015

SELAMAT HARI LAHAN BASAH SEDUNIA

TANGGAL 2 FEBRUARI 2015

Hari Lahan Basah Sedunia pertama kali diperingati tahun 1997. Peringatan ini ditandai dengan penandatanganan Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) pada tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar Iran, dan Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi ini melalui Keputusan Presiden RI No 48 tahun 1991. Konvensi Ramsar itu sendiri adalah kesepakatan internasional tentang perlindungan wilayah-wilayah lahan basah yang penting, terutama yang memiliki arti penting sebagai tempat tinggal burung air. Tujuan perjanjian itu adalah untuk mendaftar lahan-lahan basah yang memiliki nilai penting di arah internasional, menganjurkan pemanfaatannya secara bijaksana, serta mencegah kerusakan yang semakin menggerogoti nilai-nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata; dengan tujuan akhir untuk melestarikan kawasan-kawasan lahan basah dunia. Negara  yang menjadi anggota dalam Perjanjian Ramsar itu harus mendaftarkan sekurangnya satu lokasi lahan basah di dalam wilayahnya ke dalam "daftar lahan basah yang penting secara internasional", yang biasanya disebut "Daftar Ramsar". Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap perlindungan lokasi lahan basah yang terdaftar, melainkan juga harus membangun dan melaksanakan rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan lahan basah di wilayahnya secara bijaksana

Sejak tahun 1997 hingga 2007, konvensi telah melaporkan bahwa 95 negara telah melakukan aktivitas perayaan Hari Lahan Basah Sedunia dalam berbagai bentuk, dari seminar dan kuliah singkat, lintas alam, kontes seni anak-anak, balap sampan, hingga aksi bersih (clean-up day) yang dilakukan komunitas masyarakat, dan sebagainya (wikipedia).

Last Updated on Wednesday, 01 April 2015 10:01 Read more...
 

Majelis Ulama Indonesia melalui Komisi Fatwa akhirnya mengeluarkan Fatwa.

Tuesday, 06 January 2015 00:00 Admin TNUK
Print PDF

Fatwa MUI No.4 tahun 2014

tentang

“Pelestarian Satwa Langka Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem” .

Berawal dari Hasil kunjungan lapangan bersama antara MUI, Universitas Nasional, WWF Indonesia dan Forum HarimauKita ke Taman Nasional Tesso Nilo dan Suaka Margasatwa Rimbang Baling, Riau pada 30 Agustus sampai dengan 1 September 2013, yang antara lain menemukan adanya konflik antara satwa dengan manusia akibat terganggunya habitat satwa sehingga menyimpulkan perlunya suatu gerakan terpadu antara legislatif, yudikatif, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, ulama dan tokoh masyarakat serta masyarakat dalam mendukung keselarasan dan keseimbangan kehidupan keanekaragaman hayati, termasuk mempertahankan habitatnya  sehingga manusia dan satwa dapat hidup berdampingan secara harmonis, juga beberapa pertemuan yang dilakukan bersama.

Last Updated on Tuesday, 10 March 2015 10:36 Read more...
 

Pencurian Biota Laut di Kawasan TNUK

Tuesday, 16 December 2014 10:25 Admin TNUK
Print PDF

“PENEGAKAN HUKUM UNTUK MEMBERIKAN EFEK JERA”

 

Walaupun Semenanjung Ujung Kulon telah ditetapkan sebagai kawasan Konservasi sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda tahun 1921, namun hingga kini kawasan tersebut masih belum aman dari gangguan. Berbagai jenis pelanggaran sering terjadi di Zona Inti Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) tersebut, yang  kini menjadi habitat terakhir Badak Jawa. Untuk memberikan efek jera kepada para pelaku, Balai TNUK melakukan penegakan hukum atas 3 (tiga) tersangka pencurian biota laut yang tertangkap tangan di pantai utara Semenanjung Ujung Kulon pada 3 Oktober 2014 yang lalu. Berikut informasinya :

Berdasarkan hasil patroli petugas lapangan dan rekaman kamera video trap, pada zona inti TNUK di Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat badak jawa sering ditemukan tindak pidana seperti pencurian burung, penjeratan kancil,  pengambilan madu,  yang dilakukan oleh beberapa pelaku secara berkelompok.

Last Updated on Monday, 22 December 2014 09:19 Read more...
 

Pameran Pandeglang Expo 2014

Thursday, 11 December 2014 14:05 Admin TNUK
Print PDF

Stand Balai TN. Ujung Kulon

Juara Kedua Pada Pandeglang Expo 2014

 

Stand Balai Taman Nasional Ujung Kulon yang bertemakan “Ayo berwisata Ke Taman Nasional Ujung Kulon”, kembali mendapatkan penghargaan sebagai “Juara II Stand Terbaik” pada Pameran Pembangunan (Pandeglang Expo 2014) yang digelar selama 12 (duabelas) hari dari tanggal 1-12 Nopember 2014 di Alun-alun Pandeglang Banten. Penghargaan yang sama sebagai “Juara II Stand Terbaik” juga diperoleh pada Pandeglang Expo tahun 2013.

Pandeglang Expo 2014 merupakan perhelatan rutin yang digelar Pemerintah Kabupaten Pandeglang setiap tahunnya. Event yang dibuka langsung oleh Bapak Bupati Pandeglang, H. Erwan Kurtubi tersebut, merupakan ajang pameran yang menampilkan produk lokal unggulan dan potensi dalam bidang pariwisata, perdagangan, pertanian, perikanan dan peluang investasi di Kabupaten Pandeglang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Pandeglang Expo 2014 menggunakan desain stand pameran indoor.

Last Updated on Thursday, 11 December 2014 14:24 Read more...
 

Ringkasan Penelitian

Thursday, 11 December 2014 11:49 Admin TNUK
Print PDF

SINDROM PULAU DALAM REINTRODUKSI

RUSATIMOR (RUSATIMORENSIS, BLAINVILLE 1822)

DI PULAU PANAITAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

PAIRAH. Sindrom pulau dalam reintroduksi rusatimor (Rusatimorensis, Blainville 1822) di Pulau Panaitan Taman Nasional Ujung Kulon. Dibimbing oleh YANTO SANTOSA, LILIK BUDI PRASETYO dan ABDUL HARIS MUSTARI.


Untuk membangun kembali populasi rusa timor di Pulau Panaitan (± 17.500 Ha) dilakukan reintroduksi dari Pulau Peucang (± 450 Ha). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan teori sindrom pulau melalui perbandingan habitat, ukuran tubuh, ukuran dan kepadatan populasi, wilayah jelajah dan alokasi waktu.

Last Updated on Tuesday, 16 December 2014 08:12 Read more...
 


Page 4 of 22
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 27 guests online

Pengunjung

780548
Hari IniHari Ini27
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini27
Bulan IniBulan Ini12571
SemuaSemua780548