Pencurian Biota Laut di Kawasan TNUK

Tuesday, 16 December 2014 10:25 Admin TNUK
Print

“PENEGAKAN HUKUM UNTUK MEMBERIKAN EFEK JERA”

 

Walaupun Semenanjung Ujung Kulon telah ditetapkan sebagai kawasan Konservasi sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda tahun 1921, namun hingga kini kawasan tersebut masih belum aman dari gangguan. Berbagai jenis pelanggaran sering terjadi di Zona Inti Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) tersebut, yang  kini menjadi habitat terakhir Badak Jawa. Untuk memberikan efek jera kepada para pelaku, Balai TNUK melakukan penegakan hukum atas 3 (tiga) tersangka pencurian biota laut yang tertangkap tangan di pantai utara Semenanjung Ujung Kulon pada 3 Oktober 2014 yang lalu. Berikut informasinya :

Berdasarkan hasil patroli petugas lapangan dan rekaman kamera video trap, pada zona inti TNUK di Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan habitat badak jawa sering ditemukan tindak pidana seperti pencurian burung, penjeratan kancil,  pengambilan madu,  yang dilakukan oleh beberapa pelaku secara berkelompok.

Para pelaku yang biasanya berjumlah sekitar 6 orang memasuki kawasan TNUK dengan menggunakan ketingting (sampan bermesin) dari arah pantai utara Semenanjung Ujung Kulon. Sebagian dari mereka memasuki wilayah darat untuk melakukan pencurian burung, menjerat kancil, mengambil madu dll.  Sedangkan sebagian lainnya menunggu di pantai sambil mencuri beberapa jenis biota laut di wilayah perairan TNUK. Untuk menghilangkan jejak, pelaku yang berada di daratan Semenanjung Ujung Kulon, sering melakukan pengrusakan dan pencurian kamera video,  pengambilan memory card dan baterai  kamera video, yang dipasang oleh Tim Rhino Monitoring Unit (RMU) BTNUK.

Pada akhir 2013,  kamera video trap merekam 17 (tujuh belas) orang yang sedang melakukan aktifitas illegal di kawasan Semenanjung Ujung Kulon. Balai TNUK bersama aparat Desa dan pihak kepolisian setempat melakukan upaya preventif terhadap mereka yang terekam kamera video, dengan cara memberikan pembinaan dan membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan aktifitas illegal di kawasan TNUK.

Namun upaya preventif tersebut tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.   Aktifitas illegal di Semenanjung Ujung Kulon masih terus terjadi bahkan intensitasnya cenderung meningkat.  Hal tersebut dibuktikan oleh hasil rekaman kamera video dan  banyaknya memory card  yang hilang (antara Maret – Desember 2014 tercatat 20 memory card  hilang).

Pada tanggal 3 Oktober 2014,  tim patroli menangkap tangan 3 (tiga) orang target operasi (TO) bernama Misdan bin Bakri, Rahmat bin Pulung, dan Damo bin Jasim yang sedang melakukan pencurian biota laut dengan barang bukti kepiting bakau 23 ekor, kepiting bintang 1 ekor, udang lobster 4 ekor, dan kerang totok 68 ekor di Blok Jamang Resort Citelang, Seksi Wilayah II P. Handeuleum.


Gambar 1. Peta TKP Pengambilan Biota Laut
Gambar 2. Barang Bukti Tipihut Pencurian Biota Laut

Untuk memberikan efek jera kepada tersangka dan pelaku lainnya, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BTNUK didampingi oleh Kepolisian Sektor Sumur  melakukan proses hukum terhadap  tersangka, dan pada tanggal 5 November 2014, Kejaksaan Negeri Pandeglang menyatakan berkas perkara penyidikan ketiga tersangka tersebut sudah lengkap (P 21).

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta mengajukan gugatan praperadilan kepada Pengadilan Negeri Pandeglang. Namun setelah melalui proses persidangan, Pengadilan Negeri Pandeglang menyatakan gugatan praperadilan tersebut ditolak  dan gugur demi hukum. Saat ini proses hukum tersebut memasuki masa persidangan.

Belakangan muncul aksi unjuk rasa di Kantor Balai TNUK dan Kantor Pengadilan Negeri Pandeglang yang dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat yang menuntut pembebasan ketiga tersangka tersebut. Disinyalir ada beberapa pihak yang ingin memanfaatkan kasus tersebut untuk kepentingan lain.

Seyogyanya semua pihak mendukung Pemerintah dalam melakukan supremasi hukum, demi tetap lestarinya TNUK yang kita banggakan. Setelah hampir seratus tahun  para pendahulu kita menjaga dan melindungi kawasan tersebut, sekarang menjadi tanggung jawab kita untuk mewariskannya kepada generasi mendatang.


Last Updated on Monday, 22 December 2014 09:19