Ringkasan Penelitian

Thursday, 11 December 2014 11:49 Admin TNUK
Print

SINDROM PULAU DALAM REINTRODUKSI

RUSATIMOR (RUSATIMORENSIS, BLAINVILLE 1822)

DI PULAU PANAITAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

PAIRAH. Sindrom pulau dalam reintroduksi rusatimor (Rusatimorensis, Blainville 1822) di Pulau Panaitan Taman Nasional Ujung Kulon. Dibimbing oleh YANTO SANTOSA, LILIK BUDI PRASETYO dan ABDUL HARIS MUSTARI.


Untuk membangun kembali populasi rusa timor di Pulau Panaitan (± 17.500 Ha) dilakukan reintroduksi dari Pulau Peucang (± 450 Ha). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan teori sindrom pulau melalui perbandingan habitat, ukuran tubuh, ukuran dan kepadatan populasi, wilayah jelajah dan alokasi waktu.

Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2012 hingga Desember 2013. Komponen habitat yang diukur meliputi vegetasi, sumber air dan ketinggian. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadrat, keanekagaraman tumbuhan dihitung menggunakan indeks Shanon-Wiener, sumber air diidentifikasilangsung di lapangan dan ketinggian menggunakan DEM yang diklasifikasi menggunakan ekstensi spasial analisis pada Arc GIS 10.1. Pengamatan jenis pakan dilakukan langsung di lapangan. Daya dukung dihitung berdasarkan ketersediaan pakan. Ukuran tubuh rusa diukur menggunakan pita meter dan timbangan, penangkapan menggunakan bius yang ditembakkan menggunakan sumpit dan dilakukan oleh dokter hewan dan paramedis.  Uji beda menggunakan Mann Whitney U.  Ukuran dan kepadatan populasi rusa timor di Pulau Peucang menggunakan data Sudibyo (2012) dan di Pulau Panaitan dilakukan inventarisasi menggunakan metode strip transek. Pengamatan wilayah jelajah menggunakan metoda focal animal sampling, estimasi wilayah jelajah menggunakan minimum convex polygon dengan menggunakan ekstensi hawth tool dan Xtool pro 11 pada Arc GIS 10.1. Pengamatan alokasi waktu menggunakan metode focal animal samling dan Mann Whitney U digunakan untuk mengukur.

 

 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam ukuran tubuh, ukuran populasi beserta kepadatannya, dan alokasi waktu antara rusa timor di Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Hal ini membuktikan bahwa manifestasi sindrom pulau dapat ditemukan pada kedua pulau tersebut. Meskipun luas wilayah jelajah rusa timor di kedua pulau tidak berbeda nyata, tetapi wilayah jelajah individu rusa timor di Pulau Peucang yang lebih menetap dibanding di Pulau Panaitan turut membuktikan manivestasi sindrom pulau. Pulau yang berukuran lebih besar dan mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi dapat dijadikan sebagai alternative tujuan introduksi satwa liar. (Amila Nugraheni)

 

Kata kunci: rusa timor, sindrom pulau, reintroduksi, pulau.

Last Updated on Tuesday, 16 December 2014 08:12