Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Ringkasan Penelitian

Ringkasan Penelitian

Thursday, 11 December 2014 11:49 Admin TNUK
Print PDF

SINDROM PULAU DALAM REINTRODUKSI

RUSATIMOR (RUSATIMORENSIS, BLAINVILLE 1822)

DI PULAU PANAITAN TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

PAIRAH. Sindrom pulau dalam reintroduksi rusatimor (Rusatimorensis, Blainville 1822) di Pulau Panaitan Taman Nasional Ujung Kulon. Dibimbing oleh YANTO SANTOSA, LILIK BUDI PRASETYO dan ABDUL HARIS MUSTARI.


Untuk membangun kembali populasi rusa timor di Pulau Panaitan (± 17.500 Ha) dilakukan reintroduksi dari Pulau Peucang (± 450 Ha). Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan teori sindrom pulau melalui perbandingan habitat, ukuran tubuh, ukuran dan kepadatan populasi, wilayah jelajah dan alokasi waktu.

Penelitian ini dilakukan dari bulan September 2012 hingga Desember 2013. Komponen habitat yang diukur meliputi vegetasi, sumber air dan ketinggian. Analisis vegetasi dilakukan dengan metode kuadrat, keanekagaraman tumbuhan dihitung menggunakan indeks Shanon-Wiener, sumber air diidentifikasilangsung di lapangan dan ketinggian menggunakan DEM yang diklasifikasi menggunakan ekstensi spasial analisis pada Arc GIS 10.1. Pengamatan jenis pakan dilakukan langsung di lapangan. Daya dukung dihitung berdasarkan ketersediaan pakan. Ukuran tubuh rusa diukur menggunakan pita meter dan timbangan, penangkapan menggunakan bius yang ditembakkan menggunakan sumpit dan dilakukan oleh dokter hewan dan paramedis.  Uji beda menggunakan Mann Whitney U.  Ukuran dan kepadatan populasi rusa timor di Pulau Peucang menggunakan data Sudibyo (2012) dan di Pulau Panaitan dilakukan inventarisasi menggunakan metode strip transek. Pengamatan wilayah jelajah menggunakan metoda focal animal sampling, estimasi wilayah jelajah menggunakan minimum convex polygon dengan menggunakan ekstensi hawth tool dan Xtool pro 11 pada Arc GIS 10.1. Pengamatan alokasi waktu menggunakan metode focal animal samling dan Mann Whitney U digunakan untuk mengukur.

 

 

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam ukuran tubuh, ukuran populasi beserta kepadatannya, dan alokasi waktu antara rusa timor di Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Hal ini membuktikan bahwa manifestasi sindrom pulau dapat ditemukan pada kedua pulau tersebut. Meskipun luas wilayah jelajah rusa timor di kedua pulau tidak berbeda nyata, tetapi wilayah jelajah individu rusa timor di Pulau Peucang yang lebih menetap dibanding di Pulau Panaitan turut membuktikan manivestasi sindrom pulau. Pulau yang berukuran lebih besar dan mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi dapat dijadikan sebagai alternative tujuan introduksi satwa liar. (Amila Nugraheni)

 

Kata kunci: rusa timor, sindrom pulau, reintroduksi, pulau.

Last Updated on Tuesday, 16 December 2014 08:12
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 35 guests online

Pengunjung

809696
Hari IniHari Ini249
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini2037
Bulan IniBulan Ini11906
SemuaSemua809696