Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Rumah Baru Bagi Monyet Ekor Panjang Eks Topeng Monyet

Rumah Baru Bagi Monyet Ekor Panjang Eks Topeng Monyet

Thursday, 11 December 2014 11:09 Admin TNUK
Print PDF

Survei Rumah Baru Bagi Monyet Ekor Panjang Eks Topeng Monyet

 

Semenjak program razia topeng monyet digalakkan Gubernur DKI Jakarta di tahun 2013 (pada saat itu dijabat oleh Joko Widodo), banyak terjaring monyet ekor panjang yang kondisinya sangat memprihatinkan. Saat ini terdapat 89 ekor monyet ekor panjang yang dirawat di Balai Kesehatan Hewan dan Ikan serta 30 ekor berada di PPS Cikananga. Satwa sitaan eks topeng monyet tersebut akan dilepasliarkan setelah menjalani perawatan dan rehabilitasi.

Sejatinya, sangat sukar untuk melepasliarkan kembali satwa-satwa, apalagi satwa yang telah lama dipelihara oleh manusia, namun demikian upaya pelepasliaran satwa merupakan solusi terbaik terhadap penanganan satwa liar hasil sitaan. Beberapa tahapan yang harus diperhatikan saat akan melepasliarkan satwa diantaranya adalah kajian mengenai habitat lokasi calon pelepasliaran, kajian medis, kajian legalitas serta kajian sosial masyarakat sekitar lokasi pelepasliaran. Tidak kalah penting adalah perlakuan intensif pengenalan kembali pakan alami yang telah lama dilupakan serta proses adaptasi dengan lingkungan barunya. Pada tahapan ini dibutuhkan proses yang panjang serta biaya yang tidak sedikit.

Untuk melepasliarkan kembali satwa ke habitatnya, diperlukan suatu kawasan yang masih layak dari segi ketersediaan pakan dan bebas gangguan/ancaman. Pilihan lokasi yang dinilai tepat untuk pelepasliaran monyet ekor panjang antara lain Suaka Margasatwa Cikepuh, TN. Kepulauan Seribu dan Pulau Panaitan di TN. Ujung Kulon. Hasil analisa awal menunjukkan TN Kepulauan Seribu tidak dimungkinkan sebagai tempat pelepasliaran karena arealnya yang terbatas dan bukan merupakan habitat monyet ekor panjang. Suaka Margasatwa Cikepuh pun dipandang kurang memadai sebagai lokasi pelepasliaran karena berdekatan dengan pemukiman penduduk. Akhirnya Pulau Panaitan menjadi pilihan terakhir sebagai lokasi yang dianggap cukup layak untuk pelepasliaran monyet ekor panjang karena merupakan habitat monyet ekor panjang dan lokasinya yang jauh dari pemukiman penduduk.

Survei lokasi pelepasliaran eks topeng monyet dilakukan di wilayah Tanjung Cina dan Legon Waton, Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon. Survey juga bertujuan untuk mengidentifikasi tumbuhan pakan monyet ekor panjang, menganalisa vegetasi untuk mengetahui kelimpahan pakan, serta melakukan penilaian habitat sebagai lokasi pelepasliaran monyet ekor panjang. Dalam survey lokasi yang dilakukan pada awal bulan September 2014 tersebut, Balai Taman Nasional Ujung Kulon bekerja sama dengan Yayasan IAR Indonesia dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

Gambar 1. Peta lokasi perjumpaan monyet ekor panjang di sekitar blok Pulau Waton,

 

Metode yang digunakan untuk mengambil data satwa adalah dengan kombinasi antara metode jalur (line transect) dengan titik pengamatan (point flesh observation), sedangkan untuk mengambil data vegetasi digunakan metode petak bersarang tetapi tanpa jalur, hal ini dikarenakan kondisi dilapangan tidak memungkinkan dibuat jalur. Pengamatan satwa dan vegetasi dilakukan di dalam hutan dan di pantai saat sedang surut.

Penilaian awal menunjukkan kondisi vegetasi di Pulau Panaitan masih sangat baik. Tumbuhan pakan monyet ekor panjang pun dijumpai cukup berlimpah dan termasuk dalam vegetasi yang mempunyai Indek Nilai Penting (INP) tinggi. Ditemukan kurang lebih 21 jenis tumbuhan pakan diantaranya kitanjung, lampeni, malapari, nyamplung, ketapang dan waru laut.

Di lokasi survey dijumpai 66 individu monyet ekor panjang yang terbagi ke dalam enam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari beberapa annggota, dari yang terkecil hingga terbesar yaitu antara 3 – 22 individu. Kelompok kecil tersebut, kemungkinan merupakan bagian dari kelompok lain dan kemungkinan ada anggota kelompok yang tidak terlihat. Saat aktif, monyet ekor panjang akan berpencar dengan jarak tertentu namun akan kembali kedalam kelompoknya saat menjelang istirahat.

Meski di lokasi survei ditemukan 6 kelompok monyet ekor panjang, tetapi jarak antar kelompok relative berjauhan terutama kelompok Legon Sabuk dengan kelompok di ujung selatan (dekat Pulau Waton) dan juga kelompok Legon Gerong, jadi kemungkinan dilokasi ini masih memungkinkan untuk penambahan individu. Lokasi yang disarankan sebagai lokasi pelepasliaran adalah di titik koordinat S 6° 36’ 50.5” E 105° 06’ 02.4” dan S 6° 36’ 05.7” E 105° 07’ 56.7”. Jumlah yang diusulkan adalah 2 kelompok yang terdiri dari kelompok sedang yang beranggotakan antara 10 – 15 individu/kelompok.

Melalui survey awal di Pulau Panaitan tersebut diharapkan dapat dipersiapkan lokasi yang benar-benar sesuai untuk pelepasliaran monyet ekor panjang eks topeng monyet sehingga mereka dapat menemukan kenyamanan di rumah barunya. (Amila Nugraheni)

Last Updated on Tuesday, 16 December 2014 08:12
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 89 guests online

Pengunjung

796909
Hari IniHari Ini51
KemarinKemarin466
Minggu IniMinggu Ini2560
Bulan IniBulan Ini14115
SemuaSemua796909