Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Rencana Pembangunan Populasi Kedua Badak Jawa

Rencana Pembangunan Populasi Kedua Badak Jawa

Monday, 08 September 2014 12:16 Admin TNUK
Print PDF

Materi Sosialisasi Rencana Pembangunan Populasi Kedua Badak Jawa

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) merupakan satwa langka yang masuk dalam Red List Data Book IUCN1) dengan kategori critically endangered atau satwa yang terancam punah.  Badak jawa juga terdaftar dalam Apendiks I CITES2) sebagai satwa yang tidak boleh diperdagangkan karena jumlahnya yang sangat sedikit dan dikhawatirkan akan punah.  Pemerintah Indonesia menetapkan badak jawa sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah  No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

Sejak IUCN menyatakan badak jawa yang terdapat  di Taman Nasional Cat Tien Vietnam punah pada akhir tahun 2011, kini satu-satunya populasi badak jawa di dunia hanya ada di Semenanjung Ujung Kulon, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).  Berdasarkan hasil monitoring Balai TNUK dengan menggunakan kamera video trap tahun 2013, jumlah populasi badak jawa di TNUK minimal 58 individu yang terdiri dari  35  jantan dan 23 betina,  dengan komposisi kelas umur  50 remaja/dewasa dan 8 anak.

Kondisi populasi badak jawa yang hanya terdapat pada satu lokasi dengan jumlah individu yang kecil tersebut, sangat rentan terhadap kepunahan.  Beberapa faktor yang  mengancam kelestarian badak jawa di TNUK, dapat berasal dari lingkungan  internal dan   eksternal populasi tersebut.  Faktor internal meliputi 1) besarnya potensi inbreeding/ perkawinan seketurunan; 2) persaingan dan pemangsaan, serta 3) degradasi kondisi habitat  akibat invasi tumbuhan langkap. Sedangkan faktor eksternal yang dapat mengancam kelestarian badak jawa adalah; 1) penyebaran wabah penyakit khususnya dari hewan ternak,  3) perburuan, dan 2) bencana alam (tsunami dan erupsi gunung berapi)  karena posisi geografis Semenanjung Ujung Kulon yang dikelilingi oleh lautan dan dekat dengan Gunung Krakatau.

Mempertimbangkan kondisi tersebut, untuk menyelamatkan populasi badak jawa dari ancaman kepunahan perlu dilakukan langkah strategis dan terencana.   Pemerintah Indonesia cq.  Kementerian Kehutanan,  sesuai kewenangannya,  telah menetapkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. 43/Menhut-II/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia Tahun 2007-2017.  Dalam permenhut tersebut terdapat 3 (tiga) rencana jangka pendek yang perlu dilakukan untuk konservasi badak jawa, yaitu: 1) Meningkatkan populasi badak jawa sebesar 20 %, 2)  Membangun populasi kedua badak jawa, dan 3) Membangun suaka badak jawa.

Pembangunan populasi kedua badak jawa di luar TNUK bertujuan untuk menghindari atau mengurangi resiko dari beberapa faktor yang berpotensi mengancam kelestarian badak jawa seperti diuraikan di atas.  Disamping itu pembangunan populasi baru bagi badak jawa akan memberi harapan baru yang lebih besar bagi berkembangnya populasi satwa langka tersebut.

Strategi mengembangkan jumlah populasi badak melalui pembangunan populasi baru di luar habitat asalnya telah berhasil dilakukan di beberapa taman nasional.

Pembangunan populasi baru badak india di Taman Nasional Kaziranga India telah berhasil meningkatkan populasi  dari 20 ekor pada  tahun 2005 hingga sekarang  mencapai 1930 ekor. Keberhasilan pembangunan populasi baru bagi badak juga terjadi di Taman Nasional Hluhluwe – Umfolozi Afrika Selatan, yang mengembangkan populasi badak dari jumlah semula 20 ekor pada 1995, hingga sekarang menjadi 1900 ekor (sumber  International Rhino Foundation).

Sebagai tindak lanjut dari Permenhut No. 43 Tahun 2007,  pada tanggal 23-24 Juni 2014 bertempat di Hotel Santika Bogor telah dilaksanakan Loka Karya  Pembangunan Populasi Kedua Badak Jawa, yang dihadiri oleh Pemerintah Pusat (Kementerian Kehutanan, Bappenas), Pemerintah Daerah (Pemprop Banten, Pemkab. Pandeglang), perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga non pemerintah dan beberapa pakar dibidang konservasi.   Pada loka karya tersebut disepakati perlunya pembangunan populasi kedua badak jawa di luar TNUK,  yang dilakukan secara terencana dengan mempertimbangkan  aspek  kebijakan, kelembagaan, sosial, dan teknis.  Beberapa aspek teknis yang perlu dipersiapkan dengan baik antara lain penyiapan habitat kedua yang sesuai, pemilihan indukan/ individu yang akan ditranslokasi, teknis translokasi yang aman, dan pengelolaan habitat kedua. Pada loka karya tersebut telah diidentifikasi beberapa kawasan hutan yang potensial  dijadikan sebagai habitat baru badak jawa, termasuk salah satunya berada di wilayah Kabupaten Pandeglang,  Provinsi Banten.

Untuk merealisasikan rencana pembangunan populasi kedua satwa langka yang menjadi kebanggaan kita tersebut,  pemerintah tentunya membutuhkan dukungan dan peran serta aktif dari para pihak.    Mari bersama  selamatkan badak jawa !

Contact Person :

Dr. Ir. MOH. HARYONO, M.Si

Kepala Balai TN. Ujung Kulon

HP : 081311003930

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

Catatan:

1) Red List Data Book IUCN adalah  daftar kategori status ancaman tumbuhan dan satwa liar untuk upaya konservasi.

2) CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Langka

Last Updated on Monday, 08 September 2014 12:40
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 75 guests online

Pengunjung

809720
Hari IniHari Ini273
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini2061
Bulan IniBulan Ini11930
SemuaSemua809720