Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Harta Karun Dibalik Belantara Ujung Kulon

Harta Karun Dibalik Belantara Ujung Kulon

Monday, 11 November 2013 11:04 Admin TNUK
Print PDF

Aneka tanaman obat dari Ujung Kulon dapat menopang ekonomi bangsa. Bukan tak mungkin mengalahkan obat tradisional impor.

Para Pemburu Tangguh

Matahari telah terbenam di ufuk barat. Sinarnya yang merah membenamkan para penghuni bumi untuk sejenak melepaskan lelahnya. Namun para pemburu tanaman obat masih sibuk mengemasi bekal yang akan dibawa ke hutan esok pagi. Segelas kopi dan sebatang rokok menemani kesibukan mereka di senja itu.

Malam mulai menjelang, sebagian dari mereka tetap larut dalam kesibukannya dan sebagian lainnya mulai bersembunyi di balik sarung tidurnya.

Esok harinya, para pemburu tanaman obat mulai bersiap dan bergegas untuk jauh ke dalam hutan Gunung Honje, Taman Nasional Ujung Kulon. Mereka menelusuri kampung, pantai, lembah, dan hutan untuk mencari tanaman obat. Mata mereka begitu peka menyisir setiap tempat seakan tidak ingin melewatkan sejengkal tanah pun. Tubuh mereka tampak tangguh dan tak kenal lelah menerobos belantara Ujung Kulon. Ya…mereka tergabung dalam Tim Survei Tanaman Obat.

Mereka berusaha mengumpulkan data mengenai potensi tanaman obat di Taman Nasional Ujung Kulon. Selain itu mereka pun mengumpulkan beberapa jenis tanaman untuk dijadikan bibit di demplot tanaman obat.

Di benaknya, mereka berharap hasil kerja kerasnya dapat mengungkap rahasia kekayaan tanaman obat di Taman Nasional Ujung Kulon dan memanfaatkannya untuk masyarakat di daerah penyangga.

Warisan Alam Tak Ternilai dari Sang Pencipta

Taman Nasional Ujung Kulon dianugerahi hutan dengan beragam jenis tanaman, sebuah warisan alam yang tak ternilai dari Sang Pencipta. Terdapat lebih 280 jenis tanaman obat tersimpan di balik gelapnya belantara mulai dari jenis herba, liana hingga ke jenis pohon.

Banyak khasiat diperoleh dari tanaman obat tersebut mulai dari mengobati penyakit demam, batuk, gatal, reumatik, kelumpuhan, malaria, bronchitis, ginjal, radang jantung dan penawar racun. Bahkan beberapa diantaranya dapat digunakan untuk mengobati penyakit kanker dan diabetes.

Kandungan flavonoid dan toksik yang memiliki potensi untuk pengobatan diabetes ditemukan dalam daun Bungur (Lagerstroemia speciosa), daun Juar (Cassia siamea), daun Kawao (Lagerstroemia reginae), daun Areuy Balagaduk (Gynura procumbens), biji pohon Balanding (Leucaena leucocophala) dan nira Kawung (Arenga pinnata).

Sementara itu, potensi antikanker ada pada daun Areuy Balagaduk (Gynura procumbens), akar Jaruju (Acanthus ilicifolius), nira Kawung (Arenga pinnata) dan minyak Nyamplung (Calophyllum inophyllum).

Sejak dulu nenek  moyang dikenal memanfaatkan flora kekayaan alam itu dengan cerdas. Dikenal istilah jamu untuk menyebut ramuan dari tanaman obat. Sangatlah disayangkan bila kekayaan tanaman obat di Ujung Kulon yang begitu melimpah tidak dimanfaatkan dan dibiarkan hilang begitu saja.

Sepetak Tanah sebagai Simbol Kekayaan Tanaman Obat

Sepetak tanah seluas 600 m2 di Kantor Seksi PTN Wilayah III Sumur tampak rimbun dengan puluhan jenis tanaman obat. Tanaman obat ini berada di bawah tegakan pohon-pohon tua yang telah berusia puluhan tahun dan menjadi simbol kekayaan tanaman obat di Taman Nasional Ujung Kulon.

Di sekitarnya tampak saung yang kokoh menaungi beberapa orang yang sedang meracik jamu. Pagar berderet tegak di sekeliling demplot tanaman dan di bagian depan terdapat papan nama yang jelas bertuliskan ”Kelompok Masyarakat Budidaya Tanaman Obat Desa Kertajaya SUMBER WARAS”.

Di demplot tanaman tersebut terdapat 44 jenis tanaman obat yang mulai dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Pengembanganan demplot tanaman obat tersebut akan diarahkan pada penelitian yang lebih mendalam dan bila diperlukan dapat dilakukan uji klinis. Uji klinis dibutuhkan sebagai dasar ilmiah keamanan dan khasiatnya bagi hewan percobaan, selanjutnya bagi manusia.

Penelitian laboratorium yang sangat terbatas menjadikan diperlukannya mengoleksi hidup tumbuhan-tumbuhan ini. Tak sekadar dikoleksi, dicari pula metode pembudidayaannya. Harapannya, jika suatu masa tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk pengobatan herbal, teknologi pembudidayaannya sudah tersedia.

Decak Kagum Si Mulut Mungil

Decak kagum keluar dari mulut-mulut mungil yang tengah serius memperhatikan Satra, ketua Kelompok Tanaman Obat “Sumber Waras”. Anak-anak berseragam merah tersebut baru menyadari betapa besar kekayaan tanaman obat yang dimiliki Taman Nasional Ujung Kulon. Mereka adalah sekelompok pelajar Sekolah Dasar yang sedang wisata pendidikan ke demplot tanaman obat.

Di sana mereka mempelajari jenis-jenis tanaman obat. Mata mereka tak lepas dari tangan trampil Satra yang sigap meramu bahan tanaman obat menjadi jamu obat yang siap dikonsumsi. Tak pernah terlintas di benak meraka, tanaman obat yang semula dianggap tak berarti ternyata bisa menghasilkan manfaat yang begitu besar.

Selain SD banyak pula anak-anak TK dan pelajar SMA berkunjung ke demplot tersebut. Keberadaan Demplot tanaman obat ini selain diarahkan sebagai sumber  bibit juga diharapkan dapat mengedukasi masyarakat di daerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon.

Mimpi Menuju Kemandirian

Bermula dari yang kecil berharap menjadi besar. Bermula dari ketergantungan, berharap menjadi kemandirian. Itulah mimpi yang ada di benak kelompok budidaya tanaman obat.

Bermula dari demplot seluas 600m2 diharapkan mimpi itu terwujud. Besarnya potensi tanaman obat di hutan Ujung Kulon berpeluang untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku obat/jamu maupun kosmetik. Peluang itu diharapkan mampu meraup keuntungan dan membangun kemandirian masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon. Bukan tak mungkin, berbagai tanaman obat tradisional yang bersumber dari Taman Nasional Ujung Kulon dapat menopang ekonomi bangsa dan mengalahkan obat tradisional impor.

Oleh :

Amila Nugraheni , Nana Suhana, dan Dindin Koesdinar (PEH Muda TN. Ujung Kulon)

Last Updated on Monday, 11 November 2013 11:32
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 75 guests online

Pengunjung

809720
Hari IniHari Ini273
KemarinKemarin371
Minggu IniMinggu Ini2061
Bulan IniBulan Ini11930
SemuaSemua809720