Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita 6 Anak Badak Jawa Baru

6 Anak Badak Jawa Baru

Monday, 19 November 2012 19:06 Admin TNUK
Print PDF

6 ANAK BADAK JAWA BARU

DITEMUKAN DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

 

 

Labuan, 12/11/2012. Badak jawa (Rhinoceros sondaicus)  merupakan jenis satwa langka yg  kini  hanya ada Taman Nasional Ujung Kulon.  Badak jawa  diklasifikasikan sebagai satwa sangat terancam punah (criticaly endangered) dalam red list data book IUCN (International Union for Conservation of Nature). Sementara itu CITES (Convention of International Trade in Endangered Species) mengkategorikan badak jawa dalam kelompok Appendix I. Badak jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah  No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar.

Pada periode tahun 1967 hingga 2008, monitoring populasi badak jawa  dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yakni dengan  mengamati jejak kaki badak dan beberapa jenis temuan lainnya, seperti kotoran, urine, bekas tumbuhan yang dimakan, dan bekas gesekan pada batang pohon. Monitoring dilakukan oleh beberapa Tim yang bergerak pada beberapa  jalur/ transek yang mengarsir Semenanjung Ujung Kulon dari arah utara ke selatan.  Taksiran populasi badak jawa hasil monitoring masih sangat bias dan seringkali menjadi perdebatan publik.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, pada  tahun 2011 Balai Taman Nasional Ujung Kulon mulai menggunakan teknologi baru dalam melakukan monitoring badak jawa. Monitoring dilakukan dengan menempatkan camera video yang bekerja secara otomatis dengan sensor gerak pada lokasi yang sering  dikunjungi badak jawa.  Berdasarkan hasil identifikasi terhadap video klip badak jawa yang diperoleh pada tahun 2011, ditemukan minimal 35 individu badak jawa, yang terdiri dari 22 individu jantan dan 13 individu betina. Dari jumlah populasi tersebut terdapat 5 individu anak badak jawa.

Proses identifikasi dilakukan oleh Tim dengan mengamati secara detail beberapa  parameter kunci yaitu  ada tidaknya cula,  morfologi tubuh (ukuran dan bentuk tubuh), ciri  khusus yang bersifat permanen (seperti bentuk cula, telinga, lipatan kulit, perilaku berjalan, dll),  dan ciri tidak permanen ( seperti adanya luka dan bisul pada tubuh).  Jika  masih ditemukan adanya  beberapa individu yang sulit dibedakan maka analisis dilanjutkan dengan meng-close up tekstur kulit pada bagian sekitar mata, dan jika masih sulit untuk dibedakan maka dicek waktu dan tempat tertangkapnya camera.

Kini ada kabar menggembirakan, berdasarkan hasil proses identifikasi yang dilakukan terhadap 672 video klip yang diperoleh dari hasil pemasangan camera video mulai bulan Maret hingga Oktober 2012, ditemukan 6 anak badak jawa baru, sementara 5 anak badak jawa yang tertangkap kamera pada tahun 2011 terekam kembali. Dengan demikian,  minimal ada 11 anak badak jawa yg saat ini ada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.  Anak-anak badak jawa yang baru teridentifikasi tersebut tertangkap camera di Cikeusik Hulu,  Curug Cigenter, Hulu Cangkeuteukeun, Rorah Daon, dan Cikeusik Muara antara periode bulan April hingga Agustus 2012.

Ditemukannya anak-anak Badak Jawa baru di Taman Nasional Ujung Kulon memberi harapan besar bagi keberlangsungan hidup jenis satwa langka tersebut di muka bumi ini.  Saat ini tim  khusus terus mendalami,  direncanakan pada bulan Desember 2012, Balai Taman Nasional Ujungkulon akan mempublikasikan hasil akhir monitoring populasi Badak Jawa tahun 2012.

 

Contact Person :  Kepala Balai TN. Ujung Kulon DR. MOH. HARYONO

Mobile 081311003930

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Last Updated on Monday, 19 November 2012 19:23
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 15 guests online

Pengunjung

781704
Hari IniHari Ini316
KemarinKemarin487
Minggu IniMinggu Ini1183
Bulan IniBulan Ini13727
SemuaSemua781704