Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Siaran Pers

Siaran Pers

Thursday, 27 September 2012 10:54 Admin TNUK
Print PDF

SIARAN PERS

BALAI TNUK MENGGANDENG UNTIRTA UNTUK MEWUJUDKAN PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

YANG BERMANFAAT BAGI MASYARAKAT

 

Serang (21/03/2012) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) secara geografis berbatasan dengan 14 desa yang berada di Kecamatan Sumur dan Cimanggu Kabupaten Pandeglang,  tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi sangat tergantung dengan keberadaan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya sebagai sumber penghidupannya.

Dalam prakteknya kegiatan konservasi seringkali dianggap sebagai penyebab konflik antara pihak pengelola kawasan dengan masyarakat yang tinggal di
sekitar kawasan konservasi, karena dianggap mematikan sumber penghidupan masyarakat lokal. Disamping konflik yang bersumber dari penyerobotan kawasan konservasi oleh pihak-pihak yang berasal dari luar wilayah, konflik yang sering terjadi di kawasan konservasi diantaranya terkait dengan akses masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan upaya-upaya pemerintah yang dapat membantu masyarakat untuk memahami, menyadarkan dan berperan aktif dalam pembangunan dan pemanfaatan hutan yang berkelanjutan. Balai Taman Nasional Ujung Kulon mengajak Universitas Sultan Ageng Tirtayasa berperan aktif dalam pembinaan partisipasi masyarakat disekitar TNUK, salah satunya melalui penandatanganan MoU di bidang Peningkatan Kapasitas Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pembinaan Partisipasi Masyarakat di sekitar TNUK.

Tanda Tangan MoU : Rektor UNTIRTA Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd. (kiri) beserta dengan Kepala Balai TN. Ujung Kulon Dr. Ir. Moh. Haryono, M.Si (kanan) melakukan penandatanganan MoU di bidang Peningkatan Kapasitas Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pembinaan Partisipasi Masyarakat di sekitar TNUK


Sholeh Hidayat, Rektor UNTIRTA Banten menegaskan bahwa melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, UNTIRTA memiliki tanggung jawab moral terhadap upaya pelestarian TNUK melalui pembinaan masyarakat sekitar TNUK, “Masyarakat luas begitu tinggi memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian TNUK, untuk itu UNTIRTA bertekad dengan serius memberikan pengabdian dan perhatiannya terhadap masyarakat di sekitar TNUK, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap kawasan TNUK bisa dikurangi”  ujarnya menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Moh. Haryono mengungkapkan bahwa Taman Nasional Ujung Kulan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional melalui Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008, “Balai TNUK dan UNTIRTA harus mendukung berbagai upaya yang telah dicanangkan pemerintah untuk melestarikan TNUK, penandatanganan MoU ini bisa dijadikan momentum kedua belah pihak untuk membangun kerjasama di bidang pemberdayaan masyarakat, pendidikan konservasi serta penelitian dan pengembangan konservasi Badak Jawa di TNUK, sehingga penguatan peran masyarakat dalam mengelola kawasan konservasi dan sumber daya alam di TNUK dapat tercipta”.

 

 

Contact Person:

Moh. Haryono, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ,

+62 (0) 813 1100 3920.

Last Updated on Thursday, 27 September 2012 11:07
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 34 guests online

Pengunjung

836361
Hari IniHari Ini254
KemarinKemarin482
Minggu IniMinggu Ini2245
Bulan IniBulan Ini9855
SemuaSemua836361