Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Nasib Hidup Badak Jawa

Nasib Hidup Badak Jawa

Thursday, 20 October 2011 15:00 Admin TNUK
Print PDF

NASIB HIDUP BADAK JAWA DI TAMAN  NASIONAL UJUNG KULON

 

 

Jenis satwa Badak Jawa hanya terdapat hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, dan tidak ada individu yang hidup diketahui di tempat-tempat pemeliharaan, seperti kebun binatang. Oleh karena itu, jenis satwa badak ini statusnya dilindungi (PP No. 7 Tahun 1999), yang sanksi-sanksi atas kejahatan terhadap jenis satwa tersebut dikenakan sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990.

Secara Internasional, jenis satwa Badak Jawa dimasukan jenis yang terancam punah (Red Data Book IUCN), dengan status, yaitu:

  • Pada tahun 1960  – 1994 termasuk Endangered
  • Pada tahun 1996 – 2004 termasuk  Critically Endangered  Red List Threatened Species 2004 (Criteria: A1bcd, C2a).
  • CITES status:  Appendix I

 

Histogram Perkembangan Populasi Badak Jawa

 

Perkembangbiakan Badak Jawa  di TNUK sangat lambat dengan trend pertumbuhan negatif (~rata-rata pertumbuhan -0,7% / tahun). Jika trend pertumbuhan negatif berlanjut populasi badak Jawa akan punah pada akhir abad 21.

Dalam grafik dapat dikatakan bahwa ukuran populasinya menurun sejak tahun 1990 an (dari sekitar 60 ekor menjadi sekitar 45 ekor).

Kondisi umum kehidupan populasi Badak Jawa di TN Ujung Kulon dalam keadaan
tertekan dan terancam oleh factor-faktor eksternal, meliputi :

Kondisi umum kehidupan populasi Badak Jawa di TN Ujung Kulon dalam keadaan tertekan dan terancam oleh factor-faktor eksternal, meliputi :

  1. Kompetisi Pakan dan Ruang dengan Banteng yang menghuni ‘niches’ yang sama di habitat hutan yang sama menjadi kesamaan dalam ruang hidup.  Sebagaimana diketahui bahwa populasi banteng mencapai sekitar 800 ekor ekor pada hutan Semenanjung Ujung Kulon.  Banteng adalah jenis satwa grazer (pemakan rumput) yang bisa menjadi browser, dan diketahui bahwa populasi banteng memakan ± 60% pakan badak (YMR, 2002).
  2. Meningkatnya aktivitas warga di habitat badak, dimana ketergantungan hidupnya pertanian dan laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi (>1.5% / tahun).  Data yang ada pada BTNUK bahwa Luas kawasan TNUK di Gunung Honje yang digarap masyarakat pada tahun 2008 mencapai 3.500 hektar, sedang hasil inventarisasi tahun 1990 diketahui hanya sekitar 800 hektar. Bertambahnya pemukiman dan aktivitas pertanian dibagian selatan Gn Honje menimbulkan ancaman serius berupa pengurangan habitat satwa.  Diantara lokasi penting adalah habitat Badak di bagian selatan Gunung Honje, yaitu : di Aer Mokla dan Kalejetan-Cilintang, yang pada beberapa areal menampilkan sawah, kebun.  Selain itu, pada habitat badak di areal ini mulai dimasuki binatang peliharaan, seperti kerbau, memasuki habitat Badak.  Kondisi demikian akan memungkinkan terjadinya penularan penyakit diantara hewan ternak dan dapat menular ke manusia dan satwa liar (Zoonosis).
  3. Meningkatnya pertumbuhan jenis tanaman di habitat badak, dimana jenis ini tumbuh dominan yang menghambat jenis-jenis tanaman lain d dalam dan isekitarnya lokasinya.  Pada saat ini sekitar 60% (18.000 ha) bagian peninsula Taman Nasional Ujung Kulon ditutupi oleh langkap dan menghalangi pertumbuhan pakan badak (Muntasib, 1997).  Oleh karena itu, agar tanaman pakan badak dapat tumbuh, maka disarankan untuk dilakukan eradikasi langkap.  Praktek eradikasi langkap dan pengamatan terhadap pertumbuhan jenis tanaman lain pernah diuji coba oleh WWF dan BTNUK pada tahun 2009.

Tindakan khusus konservasi in situ di habitatnya
Sebagaimana diyakini bahwa ukuran populasi Badak  Jawa  yang kecil dan diperkirakan  yang menurun dari  tahun-tahun sebelumnya, maka perlu dilakukan upaya-upaya mempertahankan dan mengembangbiakan keberadaan  Badak  Jawa.
Sejauh ini, upaya-upayanya difokuskan  pada  pengamanan  kawasan  dari gangguan  dari  luar,  seperti  perburuan  liar  dan pengrusakan  habitat  dengan  harapan spesies ini dapat hidup tanpa ada gangguan dari luar.  Namun  demikian,  dari  hasil telaah  beberapa  pakar  ditemukan  indikasi  kuat  bahwa tekanan  terhadap  Badak  Jawa  justru  diakibatkan  oleh  suksesi alam yang menuju  pada formasi hutan  tajuk  tinggi.   Kondisi  ini  tidak  sesuai dengan karakteristik habitat Badak Jawa  yang lebih cocok  hidup  pada  daerah  yang  relatif  terbuka.  Serangkaian  studi dilakukan  untuk memperkuat  indikasi  tersebut  sampai pada  akhirnya  disepkati  untuk melakukan  pembinaan  habitat  untuk melestarikan  dan  bahkan meningkatkan  populasi Badak Jawa  tersebut. Hal  ini sejalan dengan startegi dan rencana aksi badak  jawa 2007- 2017  berdasarkan  Permenhut No. P.43/Menhut-II/2007  yang menyatakan  bahwa  pada tahun 2015 harus sudah tersedia satu buah santuary bagi Badak Jawa. Hasil studi lanjutan yang hasilnya tertuang dalam dokumen Report of Second Habitat Assessment for the Javan Rhino  (2009) merekomendasikan  bahwa  untuk  lokasi  yang  sesuai  untuk  pembangunan Javan  rhino  research and  conservation area adalah di  areal  lahan Gunung Honje  Selatan yang meliputi Legon Pakis, Cihujan, Cikarang, Cikalejetan, Ranca Gebang, Aermokla dan Cimahi.  yang  didalamnya  harus  dilakukan  intensifikasi  manajemen  aktif,  seperti reforestasi, pelaksanaan tebang dan bakar, dan lain-lain.
Dalam  rangka  realisasi  pembinaan  habitat    Badak  Jawa  ini,  pada  tanggal  21  Juni  telah dilakukan  launching pembangunan JRSCA  di  gunung  honje  selatan  oleh  Menteri Kehutanan  dan  Gubernur  Banten  yang  ditindaklanjuti  oleh  surat  Direktur Konservasi Keanekaragaman  Hayati  tanggal  1  Oktober  2010 mengenai  pentingnya  melakukan pembinaan habitat Badak Jawa untuk menyelematkan Badak Jawa.
Peta Zonasi TNUK 2011
Merujuk pada penjelasan-penjelasan diatas, maka  salah  satu pertimbangan  yang  sangat penting  dalam melakukan pemantapan  zonasi  kawasan  TNUK  adalah  menetapkan wilayah-wilayah  yang  diduga  perlu  mendapat pembinaan  habitat  Badak  Jawa  sebagai zona perlindungan yang dapat dilakukan perlakuan.   Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam  Permenhut  No.  56/Menhut-II/2004  tentang  Zonasi  Taman  Nasional,  zona perlindungan  yang  dapat  dilakukan perlakuan  pembinaan  habitat  adalah  zona  rimba.  Sementara  jika  berdasarkan  kriteria masing-masing  zona  yang  diatur dalam  peraturan tersebut,  dengan  mengacu  kepada  status  konservasi  dari  spesies  Badak  Jawa  yang merupakan tergolong  langka,  endemik  serta  terancam punah maka terhadap habitatnya dapat ditetapkan sebagai Zona Inti.
Pilihan-pilihan penentuan zona pada habitat Badak  Jawa  ini memiliki konsekuensi yang berbeda.  Pertama,  jika  habitat  Badak Jawa  ditetapkan  sebagai  Zona  Rimba  agar  dapat dilakukan perlakuan pembinaan habitat maka perlu ditegaskan bahwa tujuan perlakuan semata-mata hanya untuk melakukan pembinaan habitat meningkatkan populasi.  Metoda yang  dipergunakan  dalam pembinaan  habitat  harus  betul-betul  matang  dan  dapat dipetanggungjawabkan  secara  ilmiah  yang  disertai  dengan  juga kemungkinan  adanya dampak  ikutan  (positif  dan  negatif)  yang  dapat  terjadi  dari  (misalnya  pengaruhnya terhadap kesatuan  ekosistem  dan  kelangsungan  hidup  spesies-spesies  lain). Aspek  lain yang  perlu  dijelaskan  berkaitan  denga kecenderungan  Zona  Rimba  yang  relatif berbatasan  dengan  zona-zana  lain  yang  frekuensi  interaksinya  dengan manusia cukup tingi  baik  penduduk  sekitar  kawasan  maupun  pengunjung  dari  luar,  sehingga  selain intensifikasi  pembinaan  habitat, diperlukan  juga  intensifikasi  kegiatan  pengendalian terhadap frekuensi interaksi manusia terhadap zona rimba melalui kegiatan pengamanan.
Kedua,  Habitat  Badak  Jawa  ditetapkan  sebagai  Zona  Inti mengingat  status  konservasi spesies Badak Jawa sebagai satwa langka dan terancam punah serta merupakan prioritas dalam  pengelolaan  sebagaimana  ditetapkan dalam  alasan  penunjukan kawasan  sebagai taman  nasional maupun  sebagai  kawasan  warisan  dunia.    Kemudian,  dengan merujuk pada  kondisi populasi  Badak  Jawa  maka  diusulkan  untuk  dapat  dilakukan  perlakuan pembinaan habitat di Zona Inti dalam rangka menyediakan habitat yang lebih mendukung terhadap  peningkatan  populasi  badak.  Sementara  ketidakselarasan  usulan  ini dengan ketentuan dalam peraturan dapat diposisikan sebagai kejadian  luar biasa (extraordinary case) yang belum terakomodasi dalam peraturan tersebut.

 

 

Last Updated on Thursday, 20 October 2011 16:00
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 49 guests online

Pengunjung

781705
Hari IniHari Ini317
KemarinKemarin487
Minggu IniMinggu Ini1184
Bulan IniBulan Ini13728
SemuaSemua781705