Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Siaran Pers

Siaran Pers

Wednesday, 02 March 2011 16:03 Admin TNUK
Print PDF

KEBERADAAN INDUK DAN ANAK BADAK JAWA BERHASIL DIDOKUMENTASIKAN

DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Temuan ini Memberikan Informasi Penting Mengenai Dinamika Populasi dan Metode Survei Badak Jawa


Pada tanggal 28 Februari 2011, telah dilakukan Jumpa Pers mengenai Keberadaan Induk dan Anak Badak Jawa yang tertangkap oleh Video Jebak. Jumpa Pers yang dilakukan di Hotel Le Dian, Serang tersebut dihadiri oleh beberapa wartawan dari media televisi dan media cetak serta Dinas terkait di tingkat Provinsi Banten maupun Kabupaten Pandeglang.

Dalam Jumpa Pers tersebut dijelaskan bahwa Video jebak (video trap) yang dipasang oleh tim Balai Taman Nasional Ujung Kulon Indonesia dan WWF Indonesia berhasil mendokumentasikan keberadaan Induk badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan anaknya di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Dalam beberapa video klip yang didokumentasikan tersebut, berhasil diidentifikasi dua pasang induk dan anak yang berbeda selama November dan Desember 2010.

Dalam rekaman video pada November 2010, didokumentasikan  keberadaan induk dan anak badak berkelamin jantan. Tampak dalam gambar pasangan induk dan anak tersebut  berjalan mendekat ke arah kamera jebak. Selama periode November hingga Desember, induk dan anak jantan ini beberapa kali melintasi video jebak tersebut, sehingga proses identifikasi dapat dilakukan dengan relatif mudah dan akurat.

Bukti keberadaan sepasang induk dan anak badak lainnya diperoleh pada awal Desember 2010. Video berdurasi 30 detik ini mendokumentasikan seekor anak badak—yang berukuran lebih besar dari pada anak jantan yang ditemukan sebelumnya—saat sedang melintasi video jebak dengan induknya. Identifikasi lebih lanjut menunjukkan bahwa individu tersebut adalah anak betina yang diperkirakan berusia sekitar 1 tahun.

Hasil temuan ini disambut baik karena menjadi bukti perkembangbiakan badak Jawa di Taman Ujung Kulon, setelah ditemukannya kematian badak tahun lalu.

Bukti keberadaan dua anak badak ini merupakan penemuan penting karena memberikan informasi mengenai dinamika populasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Dengan adanya dua anak ini, populasi badak Jawa tetap stabil pada kisaran 50 individu di TN Ujung Kulon.

Dan mulai bulan Februari 2011, pengelolaan penggunaan kamera dan video jebak akan sepenuhnya dilakukan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon.  Sebelumnya, sejak 2001 pengelolaan kamera dan video jebak dikoordinir bersama antara WWF-Indonesia dengan Balai TNUK.

Hasil rekaman video jebak tersebut memberikan masukan penting bagi metode penghitungan dan pemantauan populasi badak yang selama ini telah dilakukan, dan diharapkan hasil yang diperoleh dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi upaya pelestarian satwa langka ini.

 

 

Last Updated on Wednesday, 02 March 2011 16:23
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 14 guests online

Pengunjung

898236
Hari IniHari Ini432
KemarinKemarin458
Minggu IniMinggu Ini3106
Bulan IniBulan Ini8437
SemuaSemua898236