Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Kematian Badak Bercula Satu

Kematian Badak Bercula Satu

Thursday, 27 May 2010 10:43 Admin TNUK
Print PDF

KEMATIAN BADAK BERCULA SATU (Rhinoceros sondaicus)

di Taman Nasional Ujung Kulon, 20 Mei 2010

 

Seekor badak jantan ditemukan oleh Tim Inventarisasi Badak Jawa (Sdr. Baehaki dan tiga personilnya) di sekitar areal Nyiur (E: 060 40’ 34,1”  – S: 1050 20’ 22,3”) - Taman Nasional Ujung Kulon, pada hari Kamis, 20 Mei 2010, pukul 14.40 WIB.   Lokasi kematian badak dikenal sebagai jalur lintasan/pergerakan badak, dan individu yang mati tersembunyi di bawah pohon.  Dengan kondisi yang utuh tulang belulang dan cula badaknya, individu badak itu tersebut telah berada di tempat cukup lama (sekitar satu bulan).   Data dan informasi lapangan lain mengenai badak yang mati tersebut, yaitu :

KEMATIAN BADAK BERCULA SATU (Rhinoceros sondaicus)
di Taman Nasional Ujung Kulon 20 Mei 2010
Seekor badak jantan ditemukan oleh Tim Inventarisasi Badak Jawa (Sdr. Baehaki dan tiga personilnya) di sekitar areal Nyiur (060 40’ 34,1” E – 1050 20’ 22,3”) - Taman Nasional Ujung Kulon, pada hari Kamis, 20 Mei 2010, pukul 14.40 WIB.   Lokasi kematian badak dikenal sebagai jalur lintasan/pergerakan badak, dan individu yang mati tersembunyi di bawah pohon.  Dengan kondisi yang utuh tulang belulang dan cula badaknya, individu badak itu tersebut telah berada di tempat cukup lama (sekitar satu bulan). Data dan informasi lapangan lain mengenai badak yang mati tersebut, yaitu :
Posisi kematian berbaring pada sisi kanan.
Cula, kerangka dan gigi-gigi kondisinya masih baik.
Tulang belulang yang masih utuh diselimuti larva (belatung) pada cula dan kuku-kuku kaki.
Kondisi gigi seri dan geraham cukup baik (masih tajam)
Panjang tulang dari ujung kepala ke pangkal ekor adalah 270 cm dengan panjang ekor 55 cm.
Kerangka badak berada dalam kondisi 90% lengkap dengan beberapa bagian yang tidak ditemukan berupa: beberapa tulang digit (jari), sternum (tulang dada), 1 (satu) gigi seri kecil/menur, dan ujung tulang ekor.
Saat ditemukan tengkorak berada di dekat kuku kaki depan, dan kuku kaki belakang terbenam di dalam tanah sedalam kurang lebih 5-7 cm (lebih dalam dibanding kuku kaki depan).
Berdasarkan posisi kematian badak serta utuhnya kerangka dan masih adanya cula, maka kematian badak jantan dewasa ini dipastikan bukan karena usia tua dan bukan karena perburan liar.  Akan tetapi, penyebab-penyaba lain masih akan dianalisa, seperti :
Verifikasi gigi herbivora (kondisi dan usia) oleh dokter hewan
Analisis tanah di sekitar kerangka badak yang meliputi: logam berat (Hg) dan bahan toksik (Sianida), mikroorganisme (E. Coli, Salmonella), Trypanosoma, Anthraks.
Labuan,  26 Mei 2010
Kepala Balai
Ir. AGUS PRIAMBUDI, MS.c
  • Posisi kematian berbaring pada sisi kanan.
  • Cula, kerangka dan gigi-gigi kondisinya masih baik.
  • Tulang belulang yang masih utuh diselimuti larva (belatung) pada cula dan kuku-kuku kaki.
  • Kondisi gigi seri dan geraham cukup baik (masih tajam)
  • Panjang tulang dari ujung kepala ke pangkal ekor adalah 270 cm dengan panjang ekor 55 cm.
  • Kerangka badak berada dalam kondisi 90% lengkap dengan beberapa bagian yang tidak ditemukan berupa: beberapa tulang digit (jari), sternum (tulang dada), 1 (satu) gigi seri kecil/menur, dan ujung tulang ekor.
  • Saat ditemukan tengkorak berada di dekat kuku kaki depan, dan kuku kaki belakang terbenam di dalam tanah sedalam kurang lebih 5-7 cm (lebih dalam dibanding kuku kaki depan).

Berdasarkan posisi kematian badak serta utuhnya kerangka dan masih adanya cula, maka kematian badak jantan dewasa ini dipastikan bukan karena usia tua dan bukan karena perburan liar.  Akan tetapi, penyebab-penyaba lain masih akan dianalisa, seperti :
  • Verifikasi gigi herbivora (kondisi dan usia) oleh dokter hewan
  • Analisis tanah di sekitar kerangka badak yang meliputi: logam berat (Hg) dan bahan toksik (Sianida), mikroorganisme (E. Coli, Salmonella), Trypanosoma, Anthraks.




Labuan,  26 Mei 2010
Kepala Balai
Ttd
Ir. AGUS PRIAMBUDI, MS.c

 

Last Updated on Friday, 28 May 2010 19:24
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 71 guests online

Pengunjung

836362
Hari IniHari Ini255
KemarinKemarin482
Minggu IniMinggu Ini2246
Bulan IniBulan Ini9856
SemuaSemua836362