Gunung Honje

Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional U See more details

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini  ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata See more details

Pulau Panaitan

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potens See more details

Pulau Peucang

Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai obyek wisata alam yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang an See more details

Pulau Handeleum

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. See more details
Selamat Datang Di Website Resmi Taman Nasional Ujung Kulon
::   Home Berita Studi Persaingan Ekologi

Studi Persaingan Ekologi

Saturday, 06 March 2010 11:27 Admin TNUK
Print PDF

Studi Persaingan Ekologi Antara Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822)
Dan Banteng  (Bos javanicus d'Alton 1832) Di Taman Nasional Ujung Kulon

YABI & WWF-Indonesia

Badak Jawa dan banteng merupakan jenis satwa yang dilindungi di kawasan TN, Ujung Kulon. Kawasan Ujung Kulon merupakan habitat yang cocok untuk kedua satwa tersebut karena menyediakan berbagai kebutuhan seperti jenis pakan, tempat berlindung, air dan mineral maupun tempat berhubungan sosial. Akan tetapi, beberapa temuan-temuan lapangan dari beberapa peneliti menunjukkan adanya indikasi persaingan badak jawa dan banteng. Kondisi persaingan ini baik langsung maupun tidak langsung tentunya akan mempengaruhi kehidupan badak jawa sebagai primadona di TN.Ujung Kulon.

Dalam kawasan TN. Ujung Kulon bukan tidak mungkin telah terjadi persaingan antar satwa tersebut karena pada kenyataannya kondisi habitat banteng dan badak jawa mempunyai kualitas dan kuantitas yang terbatas. Menurut Djaja et.al. (1982) dan Sadjudin (1984), indikasi persaingan dapat dilihat dari banyaknya jenis tumbuhan pakan yang sama, adanya dominasi tumbuhan tertentu yang tidak menguntungkan bagi tersedianya jenis tumbuhan pakan badak jawa dan jalur lintasan yang saling tumpang tindih.
Yayasan Mitra Rhino (YMR) bekerjasama dengan World Wildlife Fund (WWF) mengadakan serangkaian penelitian di Kawasan Ujung Kulon dengan tujuan umum untuk menduga ada tidaknya persaingan antara badak jawa dan banteng dilihat dari sudut pandang ekologi sebagai data dasar untuk panduan pengelolaan habitat di TNUK. Adapun tujuan khusus penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah populasi badak jawa dan banteng (padang penggembalaan dan hutan), mengetahui komposisi vegetasi, keanekaragaman jenis dan tumbuhan pakan, menduga nilai palatabilitas dan potensi tumbuhan pakan, mengetahui persamaan untuk menduga nilai indeks volume pakan setiap jenis tumbuhan pakan dan menduga nilai biomassa, produktivitas tumbuhan pakan badak jawa dan banteng serta daya dukung habitatnya. Hasil-hasil penelitian ini akan digunakan untuk merencanakan tindakan manajemen badak jawa yang tepat di Semenanjung Ujung Kulon, sehingga keberadaannya dapat dipertahankan.
Pendugaan jumlah populasi banteng di padang penggembalaan TNUK dari sepuluh padang penggembalaan yang diketahui hanya empat padang penggembalaan yang masih aktif, adapun jumlah populasi dari 4 padang penggembalaan tersebut yaitu Cidaon 27 ekor, Cibunar empat ekor, Cigenter sepuluh ekor dan Nyiur 17 ekor, sedangkan pendugaan populasi banteng di dalam hutan sangat sulit dilakukan karena cukup sukar untuk menemukan banteng secara langsung dan belum bisa menduga individu yang sama dan individu yang berbeda. Salah satu cara pendugaan jumlah individu banteng didekati berdasarkan penemuan jejak terpadat dengan menggunakan metode transek. Selama penelitian ditemukan sebanyak dua areal yang teridentifikasi sebagai daerah konsentrasi banteng dalam hutan yaitu Blok Cikuya dengan jarak sekitar 2,8 km dari Pg. Cidaon arah barat laut dan
Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian pada daerah konsentrasi tersebut dalam lima hari pengamatan ternyata tidak menemukan banteng secara langsung. Hal ini dimungkinkan adanya kehadiran manusia yang menyebabkan banteng menghindar dari areal tersebut atau mencari areal lain karena terganggu oleh kegiatan penelitian.
Populasi badak jawa pada saat ini sekitar 40-60 ekor, sangat kritis bila dilihat dari sudut pandang kemampuan breeding, oleh karenanya harus segera dilakukan upaya tepat untuk mencegah terus merosotnya kemampuan berkembang biak mereka. Kemampuan breeding ini perlu dilakukan penelitian secara tepat.
Untuk mengetahui komposisi jenis tumbuhan di padang penggembalaan dan potensinya dilakukan analisis vegetasi. Padang penggembalaan Cidaon ditemukan sebanyak 19 jenis yang terdiri dari 12 jenis rumput dan tujuh jenis bukan rumput dengan jenis yang mendominasi adalah Chrysopogon aciculatus. Padang Penggembalaan Cibunar sebanyak 13 jenis yang terdiri dari delapan jenis rumput dan lima jenis bukan rumput dengan dominasi Ischaemum muticum. Padang Penggembalaan Cigenter sebanyak 19 jenis terdiri dari 11 jenis rumput dan delapan jenis bukan rumput dengan dominasi domdoman dan Padang Penggembalaan Nyiur ditemukan 13 jenis terdiri dari enam jenis rumput dan tujuh jenis bukan rumput dengan jenis yang mendominasi adalah Alysicarpus numumlarifolia. Keanekaragaman jenis tertinggi terdapat di Padang Penggembalaan Nyiur. Padang penggembalaan mengalami kemerosotan baik kuantitas maupun kualitas. Jenis tumbuhan Ardisia humilis dan Arenga obtusifolia banyak tumbuh di padang-padang rumput. Keadaan ini menyebabkan banyaknya banteng yang masuk ke dalam hutan, dan keadaan ini sangat mengganggu kehidupan badak.
Untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi hutan dilakukan analisis vegetasi dari 16 petak contoh di dalam hutan pada setiap daerah konsentrasi, total jenis tumbuhan pada daerah konsentrasi banteng ditemukan sebanyak 71 jenis. Daerah konsentrasi badak jawa ditemukan 103 jenis dan daerah overlap sebanyak 95 jenis. Total jenis tumbuhan yang didapatkan selama penelitian sebanyak 147 jenis. Keanekaragaman jenis semai dan pohon tertinggi ditemukan di daerah konsentrasi badak jawa, pancang di daerah overlap dan tiang di daerah konsentrasi banteng.
Hasil analisis vegetasi pakan dalam hutan pada daerah konsentrasi banteng ditemukan sebanyak 105 jenis tumbuhan pakan banteng dan pada daerah konsentrasi badak jawa ditemukan sebanyak 79 jenis pakan badak jawa. Pada daerah overlap (badak jawa dan banteng) ditemukan sebanyak 110 jenis tumbuhan pakan yang terdiri dari 97 jenis tumbuhan yang hanya dimakan badak jawa, 74 tumbuhan yang hanya dimakan banteng dan 63 jenis tumbuhan merupakan pakan badak jawa dan banteng.
Pada daerah konsentrasi banteng, Arenga obtusifolia, Daemonorops melanochaetes, Donnax cunnaeformis, Diospyros macrophylla dan Dillenia excelsa mempunyai nilai palatabilitas tertinggi dan paling disukai oleh banteng, pada daerah konsentrasi badak jawa tumbuhan yang mempunyai nilai palatabilitas tertinggi dan paling disukai oleh badak jawa adalah Daemonorops melanochaetes, Ardisia humilis, Cynometra lamiflora, Exoecaria virgata dan Evodia latifolia, sedangkan pada daerah overlap, Arenga obtusifolia, Leea sambucina, Caryota mitis, Saccopetalum heterophylla dan Daemonorops melanochaetes merupakan pakan yang paling disukai oleh banteng dan Leea sambucina, Caryota mitis, Amomum coccineum, Eugenia polyantha dan Tetracera scandens adalah jenis pakan yang disukai oleh badak jawa. Pertumbuhan dan penyebaran Arenga obtusifolia di
seluruh Taman Nasional Ujung Kulon perlu segera dibatasi karena sangat menggangu pertumbuhan dan perkembangan anakan yang merupakan pakan badak jawa.
Tumbuhan pakan yang berpotensi menjadi pakan satwa adalah tumbuhan yang dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh satwaliar tersebut. Pendugaan potensi pakan dilakukan dengan menggunakan model dasar persamaan regresi linear pada selang kepercayaan 95%. Analisis data untuk jenis tumbuhan sumber pakan didasarkan pada hubungan antara diameter tajuk, rumpun atau daun (X1) dan tinggi dari cabang atau daun pertama sampai cabang atau daun terakhir atau ketinggian ± 250 cm dari permukaan tanah (X2) dengan bobot basah daun setiap jenis sumber pakan (Y). Potensi pakan potensial banteng pada daerah konsentrasi banteng sebesar 194,39 kg/ha dengan potensi pakan aktual 55,56 kg/ha. Pada daerah konsentrasi badak jawa potensi pakan potensial badak jawa sebesar 1209,985 kg/ha dengan potensi pakan aktual 615,035 kg/ha. Pada daerah overlap potensi pakan potensial untuk badak jawa sebesar 607,588 kg/ha dengan potensi pakan aktual 331,025 kg/ha, sedangkan untuk banteng potensi pakan potensial sebesar 402,896 kg/ha dengan potensi aktual 204,321 kg/ha. Jenis makanan badak masih cukup beraneka ragam. Diantara jenis pakan ada yang sama dengan jenis yang disukai banteng.
Pendugaan indeks volume pakan merupakan langkah awal dalam menduga bagian tumbuhan yang hilang akibat dikonsumsi oleh badak jawa maupun banteng. Model pendugaan nilai indeks volume pakan untuk daerah konsentrasi badak jawa dan daerah overlap teridentifikasi sebanyak 84 jenis tumbuhan dengan model persamaan indeks volume sebanyak 142 persamaan. Sedangkan model persamaan pendugaan nilai indeks volume pakan banteng untuk daerah konsentrasi banteng dan daerah overlap teridentifikasi sebanyak 65 jenis tumbuhan dengan model persamaan indeks volume sebanyak 130 persamaan. Rata-rata bagian tumbuhan (ranting atau daun) yang dimakan badak jawa dan banteng masing-masing sebesar 0,76 dan 0,52.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai daya dukung banteng pada padang penggembalaan ditinjau dari segi biomassa dan produktivitas untuk padang penggembalaan Cidaon sebanyak 13 ekor, Cibunar sebanyak delapan ekor, Cigenter sebanyak tiga ekor dan Nyiur sebanyak satu ekor. Sedangkan hasil perhitungan nilai daya dukung di dalam hutan untuk banteng pada daerah konsentrasi banteng sebanyak 382 ekor, sedangkan daya dukung badak jawa adalah nol dengan asumsi tidak ada badak yang memakai daerah tersebut dalam memanfaatkan habitatnya. Apabila di daerah tersebut terjadi persaingan antara banteng dan badak jawa maka perhitungan nilai daya dukung untuk badak perlu diketahui dan dihitung. Untuk mengetahuinya harus dimasukan nilai faktor kompetisi, dikarenakan pada daerah konsentrasi banteng, badak jawa juga akan memanfaatkan habitat dan pakan yang hampir bersamaan dengan banteng. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai daya dukung untuk banteng sebesar 64 ekor dan untuk badak jawa sebanyak 10 ekor.
Pada daerah konsentrasi badak jawa daya dukung badak jawa sebanyak 12 ekor. Perhitungan nilai daya dukung badak jawa dan banteng pada daerah konsentrasi badak jawa perlu dimasukan nilai faktor kompetisi, sehingga didapatkan nilai daya dukung badak jawa sebesar 10 ekor dan nilai daya dukung untuk banteng sebesar 61 ekor. Sedangkan pada daerah overlap (badak jawa dan banteng) daya dukung badak jawa sebanyak 47 ekor dan banteng sebanyak 279 ekor. Dari nilai daya dukung tersebut maka dapat diketahui bahwa nilai daya dukung dalam hutan di Semenanjung Ujung Kulon untuk
kedua spesies adalah 404 ekor untuk banteng dan 67 ekor untuk badak jawa.
Interaksi antara badak jawa dan banteng menurut beberapa indikasi yang ditemukan sudah mengarah kepada persaingan, penurunan daya dukung padang penggembalaan dan intensitas pemanfaatan padang penggembalaan berkurang. Perubahan pola penggunaan padang penggembalaan ini membawa pengaruh bagi badak jawa. Banteng yang turut memanfaatkan sediaan pakan dalam hutan menyebabkan berkurangnya sediaan pakan ataupun daya dukung bagi badak. Dampak yang mungkin terjadi akibat adanya pola-pola pemanfaatan hutan oleh banteng dan berkurangnya sediaan pakan badak adalah menurunnya kualitas populasi badak dan terjadinya perubahan pola penggunaan ruang (terutama pola aktivitas menjelajah). Keadaan ini sangat rentan bagi perkembangan populasi badak, karena akan meningkatkan resiko kepunahannya dalam waktu yang cepat.
Dilihat dari perbandingan jumlah jenis pakan yang dapat dikonsumsi badak dan banteng, jumlah individu aktual yang dimakan, proporsi bagian yang dimakan, dan palatabilitas dapat menggambarkan kondisi persaingan antara badak dan banteng. Keadaan akan semakin tidak menguntungkan bagi badak, karena adanya invasi Arenga obtusifolia yang hampir merata di seluruh hutan Semenanjung Ujung Kulon, di masa mendatang keadaan ini perlu diwaspadai dan ditindak lanjuti, karena telah diketahui secara umum bahwa laju invasi Arenga obtusifolia sangat cepat dan mengurangi sediaan pakan badak secara signifikan.
Dari sudut pertumbuhan populasi badak Jawa ada sejumlah faktor utama yang berperan, yaitu kemampuan breeding dan tahanan lingkungan. Badak Jawa sangat sensitive dengan gangguan, sehingga mudah mengalami stress. Stress akan menentukan kemampuan breeding, stress banyak dipengaruhi oleh kondisi gangguan lingkungannya. Sedangkan pertumbuhan populasi banteng terus meningkat dan tidak lagi terkonsentrasi di padang penggembalaan. Dikatakan meningkat karena banteng mendapatkan habitat tambahan melalui proses adaptasi yang berhasil pada lingkungan hutan, selain itu jumlah predator banteng (macan tutul dan anjing hutan) yang tidak seimbang.
Melihat gambaran tentang populasi badak dan banteng sampai saat ini, maka keadaan sekarang menjadi tidak menguntungkan bagi perkembangan populasi badak. Jumlah dan pertumbuhan populasi banteng jauh lebih besar/baik daripada badak (stagnan) dan populasi banteng memiliki peluang lebih besar untuk terus bertambah. Pertambahan populasi banteng ini tentu saja akan mempengaruhi (mengurangi) daya dukung hutan bagi kedua jenis satwa ini, terutama bagi badak jawa.
Sesuai dengan permasalahan dan atas dasar analisis populasi dan habitat badak jawa maupun banteng, maka disarankan adanya tindakan dan kegiatan manajemen badak jawa yang tepat di Semenanjung Ujung Kulon, sehingga keberadaannya dapat dipertahankan. Kegiatan tersebut harus dimulai dengan percobaan pada skala kecil, khususnya bagi pengelolaan padang penggembalaan dan mengurangi invasi Ardisia humilis dan Arenga obtusifolia. Hasil percobaan skala kecil yang terus disempurnakan untuk selanjutnya dikembangkan pada skala besar atas dasar pengkajian yang mendalam terhadap feasibilitasnya baik secara teknis, ekologis maupun ekonomis.

 

Last Updated on Tuesday, 09 March 2010 11:49
the world heritage

Yahoo! Messenger

tn_ujungkulon

 

contact tnuk



Kategori

We have 47 guests online

Pengunjung

781705
Hari IniHari Ini317
KemarinKemarin487
Minggu IniMinggu Ini1184
Bulan IniBulan Ini13728
SemuaSemua781705